Keluarga Syodanco Supriyadi Buka Tabir Misteri Pemberontakan PETA di Blitar

waktu baca 3 menit
Pemberontakan PETA di Blitar Foto/Istimewa Ilutrasi/komunica.id

BLITAR – Suroto (84), adik Pahlawan Kemerdekaan Syodanco Soeprijadi atau Supriyadi membuat testimoni yang mengejutkan tentang sejarah Pemberontakan tentara PETA (Pembela Tanah Air) di Blitar 14 Februari 1945.

Suroto menuturkan, peristiwa pemberontakan PETA di Blitar tidak seluruhnya sama persis dengan cerita sejarah yang selama ini tertulis. Ada peristiwa pembantaian besar-besaran oleh Jepang terhadap pasukan PETA yang dipimpin Supriyadi.

Peristiwa pembantaian yang tidak pernah diungkap itu berlangsung di hutan Maliran, d wilayah Kecamatan Ponggok Kabupaten Blitar, di mana Supriyadi diduga juga turut terbunuh.

Cerita itu diungkapkan Suroto di dalam forum FGD (Focus Group Discussion) penyusunan komik tentang Perjuangan Tentara PETA Blitar yang digelar Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Blitar.

“Jam 07.30 WIB pagi (di hutan maliran Ponggok) dikepung rapet gak iso metu (dikepung rapat gak bisa keluar), ditembaki. Ya mesti ada Supriyadi, dia yang memimpin,” tutur Suroto kepada wartawan dalam forum FGD penyusunan komik tentang Perjuangan Tentara PETA Blitar.

Suroto diundang dalam penyusunan komik tentang Perjuangan Tentara PETA Blitar, mewakili keluarga Syodanco Soeprijadi. Setidaknya ia hadir dua kali dalam FGD dengan didampingi Soedarmanto, keponakannya.

Suroto meminta konten komik dengan tokoh utama Syodanco Soeprijadi tidak memuat desas-desus atau cerita yang tidak masuk akal. Kemudian juga meminta alasan pemberontakan PETA Blitar diungkap secara jelas.

Suroto menceritakan peristiwa pembantaian di hutan Maliran itu berlangsung mengerikan. Dalam posisi terpojok karena terkepung, pasukan PETA Syodanco Supriyadi ditembaki. Tank Jepang kemudian menyerbu untuk memastikan semuanya tewas.

Secara implisit, Suroto meyakini kakaknya ikut terbunuh dalam peristiwa pembantaian itu. Lantas bagaimana dengan cerita sejarah penyerbuan Syodanco Supriyadi di hotel Sakura yang menjadi markas perwira Jepang?. Suroto menyebut serangan itu hanya lemparan mortir.

Dalam catatan sejarah, Syodanco Supriyadi disebut memimpin 360 prajurit PETA untuk keluar barak. Serangan Supriyadi ke hotel Sakura telah menewaskan empat orang Jepang dan tujuh orang etnis Tionghoa pro Jepang. 

“Itu hanya lemparan mortir. Hotel Sakura itu dulu berada di depan kantor Kodim 0808 Blitar,” terangnya.

Suroto juga mengatakan gerakan Syodanco Supriyadi itu awalnya bukan pemberontakan dengan perang terbuka. Karena keahlian Supriyadi saat mendapat pendidikan calon perwira PETA Jepang di Tangerang dan Bogor, kata dia terkait perang gerilya.

Menurut Suroto, peristiwa yang kemudian dikenang sebagai pemberontakan PETA Blitar itu berawal dari latihan gabungan di Tuban Jawa Timur. Setiap PETA di daerah diminta mengirimkan pasukan ke Tuban, termasuk PETA Blitar yang dipimpin Supriyadi.

Diduga latihan gabungan sengaja digelar setelah Jepang mencium informasi adanya rencana gerakan makar dari Blitar. “Itu awalnya latihan gabungan di Tuban, bukan pemberontakan,” kata Suroto.

Yang terjadi kemudian, pada saat perjalanan menuju Tuban, kata Suroto, Syodanco Supriyadi dan pasukannya tiba-tiba diperintahkan kembali ke Blitar. Di saat yang sama Supriyadi mendengar informasi dirinya bakal ditangkap Jepang.

Diduga untuk menghindari penangkapan, menurut Suroto, pasukan PETA Blitar yang dipimpin Supriyadi tidak kembali ke barak, melainkan menuju hutan maliran di wilayah Kecamatan Ponggok. Pasukan Jepang kemudian melakukan penyerbuan, dan terjadi pembantaian besar-besaran.

Suroto mengaku heran kenapa peristiwa pembantaian di mana diduga Supriyadi turut terbunuh, tidak diceritakan dalam sejarah pemberontakan PETA Blitar. Ia mengaku sudah menyampaikan peristiwa Maliran itu ke pemerintah, namun tidak pernah ada tindak lanjut.

“Cerita ini sudah pernah saya sampaikan,” pungkasnya.

Pihak Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Blitar mengatakan semua informasi yang disampaikan dalam FGD akan menjadi pengetahuan baru tentang sejarah Pemberontakan PETA Blitar.

Cerita-cerita yang terungkap menambah pengayaan sejarah PETA Blitar, khususnya terkait Syodanco Supriyadi. Seperti yang tertulis dalam sejarah, pasca Pemberontakan PETA Blitar nasib Syodanco Supriyadi menjadi misteri.

Tidak ada kepastian apakah putra Bupati Blitar Darmadi itu tewas dalam pemberontakan atau masih hidup. Pada awal kemerdekaan Presiden Soekarno menunjuk Supriyadi menjadi Menteri Pertahanan Keamanan, namun yang bersangkutan tidak pernah hadir. Foto Ilustrasi/Sumber SINDOnews.com

Berita Terkini

0
0

Adv