Kisah Tragis Bondan Kejawan, Pangeran Majapahit Tumbal Kejayaan Prabu Brawijaya

waktu baca 3 menit
Ilustrasi Bandan Kejawan, putra Prabu Brawijaya Raja Majapahit. Foto/Istimewa

Mengulas kisah perjalanan sejarah kerajaan nusantara menarik untuk diulas satu persatu. Salah satunya tentang Bondan Kejawan. Di bawah bayang-bayang kejayaan Kerajaan Majapahit, dia merupakan putra atau pangeran yang tersembunyi.

Mimpi sang prabu tentang perpindahan wahyu kerajaan memicu perintah kejam yaitu membunuh setiap bayi laki-laki berusia sewindu. Pada mimpinya itu Prabu Brawijaya konon bisa sembuh dari penyakit yang dideritanya karena suatu syarat. 

Syarat itu yakni ia harus bercampur dengan putri Wandan, dayang-dayang putri Dwarawati. Hal itu diungkapkan dari buku “Runtuhnya Kerajaan Hindu Jawa dan Timbulnya Negara – Negara Islam di Nusantara”. 

Tetapi setelah sembilan bulan, putri Wandan melahirkan seorang jabang bayi laki-laki. Putri Wandan diceraikan dan jabang bayi diserahkan Prabu Brawijaya kepada juru Masahar, dengan pesan agar jabang bayi pada usia sewindu dibunuh. 

Juru sawah Masahar menyanggupi, jabang bayi dibawa pulang dan dipelihara baik-baik oleh Nyi Masahar, yang sudah bertahun-tahun merindukan anak. Jabang bayi itu diberi nama Bondan Kejawan. 

Setelah mencapai usia sewindu, juru sawah Masahar berniat memenuhi janjinya kepada sang prabu, karena takut kena umpat sang nata Prabu Brawijaya. Ketika melihat keris terhunus siap untuk ditikam, Nyi Buhut Masahar jatuh pingsan. 

Karena cintanya kepada istrinya, Bondan Kejawan tidak jadi dibunuh. Ki Masahar terpaksa berdusta kepada sang prabu, Bondan Kejawan dirahasiakan. Ki Juru Sawah Masahar setiap habis musim panen menyerahkan hasil sawah kepada sang Prabu Majapahit. 

Karena hasil padi terlalu banyak, padi itu dipikul oleh banyak orang. Pada suatu waktu, ketika Ki Juru Masahar berangkat ke Majapahit mengantar orang-orang yang memikul padi, Bondan Kejawan ingin ikut serta di luar pengetahuan bapak angkatnya. 

Penyerahan hasil padi telah diserahkan kepada sang prabu dan diterima oleh para pembesar yang ditugaskan. Sementara itu, Bondan Kejawan masuk Siti Inggil menuju tempat gamelan Sekar Dalima, hadiah dari Raja Campa. 

Bondan Kejawan bermain gamelan Sekar Dalima, sedangkan gamelan Sekar Dalima adalah gamelan pusaka, tidak boleh dimainkan oleh sembarang orang. Hanya dimainkan di waktu-waktu tertentu saja. Dengan sendirinya bunyi gamelan itu membuat terkejut orang banyak. 

Sang Prabu Brawijaya segera memberikan perintah untuk memeriksa siapa – siapa yang berani memainkan ganelan Sekar Dalima itu. Ketika Bondan Kejawan ditangkap dan ditanya siapa nama dan dari mana asalnya, ia mengaku bahwa ia adalah anak Ki Masahar, juru sawah. 

Bondan Kejawan dibawa menghadap ke sang prabu. Dalam hati sang prabu gembira melihat putranya kembali dititipkan kepada Ki Masahar. Beliau tidak percaya bahwa Bondan Kejawan adalah anak kandung Mi Masahar. 

Bagaimana pun Bondan Kejawan konon adalah putranya sendiri yang pernah dititipkan dan disuruh dibunuh karena penafsiran ramalan dari nujum mengenai perpindahan Majapahit ke Mataram. 

Oleh karena itu sang prabu tidak marah, bahkan malah memberi hadiah dua bilah keris bernama Mahisa Nuar dan Malela, serta berpesan kepada Ki Masahar supaya Bondan Kejawan dititipkan kepada Ki Ageng Tarub, pesan diindahkan. 

Ki Masahar dan Bondan Kejawan segera berangkat ke Tarub. Sampai di Tarub, Bondan Kejawan diserahkan kepada Ki Ageng Tarub. 

Bondan Kejawan diterima baik dan kemudian diambil menantu oleh Ki Ageng, dikawinkan dengan cucu perempuannya Dyah Nawang Sih, keturunan bidadari Nawang Wulan. Adapun Nawang Sih adalah keturunan langsung dari Ki Gede Kudus. 

Putra lelaki Ki Gede kena marah, karena berani membangkang terhadap perintah kawin sang ayah.