China Naik Pitam! AS Perluas Sanksi Iran, Balasan Keras Tengah Disiapkan
KOMUNICA.ID – China memperingatkan Amerika Serikat (AS) agar tidak memperluas sanksi sekunder terkait Iran hingga berdampak signifikan terhadap perusahaan-perusahaan Negeri Tirai Bambu.
Beijing menegaskan akan mengambil langkah yang diperlukan untuk melindungi kepentingan nasionalnya jika Washington memperluas tekanan ekonomi tersebut.
Peringatan China muncul setelah Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengumumkan paket sanksi baru terhadap hampir 60 individu, entitas, dan kapal yang terkait dengan Iran.
Sejumlah perusahaan berbasis di China daratan dan Hong Kong turut masuk dalam daftar, meski lembaga keuangan besar China sejauh ini tidak menjadi sasaran.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian mengatakan Beijing menolak penggunaan sanksi sepihak yang tidak memiliki dasar dalam hukum internasional.
“China akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk melindungi hak dan kepentingannya yang sah,” kata Lin dalam konferensi pers di Beijing, dikutip dari Finansial Times, Selasa (25/8/2026).
China Tak Ingin Terjebak Konflik AS-Iran
Beijing juga menyerukan agar persoalan antara AS dan Iran diselesaikan melalui jalur diplomasi. China menilai tekanan ekonomi justru berisiko memperburuk ketegangan dan mengganggu stabilitas ekonomi global.
Sikap tersebut menjadi semakin penting karena China merupakan salah satu mitra ekonomi utama Iran sekaligus pembeli terbesar minyak negara tersebut.
Sejumlah kilang swasta China masih mengolah minyak Iran, sementara perusahaan energi milik negara cenderung lebih berhati-hati terhadap risiko sanksi AS.
Langkah Washington karena itu berpotensi menempatkan Beijing dalam posisi sulit: mempertahankan hubungan perdagangan dengan Teheran sekaligus menghindari dampak dari sanksi sekunder AS.
AS Menekan Negara yang Berdagang dengan Iran
Pemerintahan Presiden Donald Trump meluncurkan kampanye yang disebut Operation Economic Outcast untuk memperketat tekanan terhadap Iran.
Bessent memperingatkan negara maupun perusahaan yang terus melakukan transaksi dengan Teheran dapat menghadapi konsekuensi dari sistem keuangan AS. Namun, pada tahap awal, Washington belum menjatuhkan sanksi paling berat terhadap institusi keuangan besar China.
Kebijakan tersebut diarahkan untuk memutus sumber pendapatan Iran, terutama dari perdagangan minyak, serta menekan jaringan yang dituding membantu Teheran menghindari sanksi.
China menjadi salah satu titik krusial karena perdagangan minyak Iran dengan Negeri Tirai Bambu dapat menjadi jalur penting bagi keberlangsungan ekonomi Teheran.
Beijing Punya Instrumen untuk Membalas
China sebelumnya telah memperkuat perangkat hukum yang memungkinkan Beijing mengambil tindakan balasan terhadap individu maupun organisasi asing yang membantu menerapkan pembatasan terhadap perusahaan China.
Karena itu, apabila Washington benar-benar memperluas sanksi sekunder dan menyasar perusahaan atau institusi strategis China, perselisihan tersebut berpotensi berkembang menjadi konflik ekonomi baru antara dua kekuatan ekonomi terbesar dunia.
Pengamat dari Peking University Wang Dong menilai langkah AS perlu dilihat lebih jauh untuk mengetahui apakah ancaman tersebut hanya merupakan alat tekanan atau benar-benar akan diterapkan dalam skala besar.
Jika sanksi diperluas secara signifikan, menurut dia, Beijing akan memiliki alasan kuat untuk membela kepentingan nasionalnya.
Hubungan Trump-Xi Bisa Ikut Terdampak
Persoalan sanksi Iran juga muncul ketika hubungan Washington dan Beijing tengah berusaha dijaga agar tidak kembali memasuki fase konfrontasi.
Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping telah menyepakati sejumlah langkah untuk menjaga stabilitas hubungan kedua negara. Gedung Putih sebelumnya menyatakan Trump akan menerima kunjungan Xi ke Washington pada musim gugur 2026.
Karena itu, perluasan sanksi terhadap perusahaan China dapat menjadi salah satu persoalan sensitif dalam hubungan kedua negara.
Jika Washington mengambil langkah lebih keras terhadap institusi China, Beijing berpotensi merespons dengan kebijakan pembalasan yang kemudian merembet ke perdagangan dan sektor ekonomi lainnya.
China juga memiliki kepentingan besar terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah. Ketegangan di sekitar Iran dan Selat Hormuz berpotensi mengganggu jalur perdagangan energi dunia.
Kondisi tersebut dapat berdampak langsung terhadap China yang bergantung pada impor minyak dari kawasan Timur Tengah.
Pakar hubungan internasional dari Nanjing University Zhu Feng mengatakan Beijing tidak ingin terseret lebih jauh ke dalam konflik antara Washington dan Teheran.
Menurut dia, penyelesaian melalui dialog tetap menjadi pilihan yang paling menguntungkan China karena eskalasi berkepanjangan di Selat Hormuz dapat meningkatkan tekanan terhadap perekonomian global.
Diplomasi China di Timur Tengah Meningkat
Di tengah meningkatnya tekanan AS terhadap Iran, Beijing juga memperkuat komunikasi diplomatik dengan negara-negara Timur Tengah.
China mendorong seluruh pihak menahan diri dan kembali ke jalur dialog. Beijing menilai penyelesaian politik diperlukan untuk mencegah konflik semakin meluas serta menjaga stabilitas energi dan ekonomi dunia.
Dengan posisi China sebagai mitra dagang utama Iran sekaligus salah satu kekuatan ekonomi terbesar dunia, langkah Beijing akan menjadi faktor penting dalam menentukan seberapa jauh kampanye tekanan ekonomi Washington terhadap Teheran dapat berjalan.
Untuk saat ini, China memilih memberikan peringatan keras tanpa langsung mengumumkan bentuk tindakan balasan.
Namun, jika perusahaan atau lembaga strategis China mulai menjadi sasaran utama sanksi sekunder AS, potensi benturan kepentingan antara Washington dan Beijing diperkirakan semakin besar.***






