Purbaya Buka Suara soal Utang RI Nyaris Rp10 Ribu Triliun: Masih Aman
KOMUNICA.ID – Utang pemerintah Indonesia tercatat hampir menembus Rp10 ribu triliun hingga akhir Maret 2026. Meski angkanya melonjak tajam, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan kondisi fiskal Indonesia masih berada dalam kategori aman.
Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR), total utang pemerintah pusat mencapai Rp9.920,42 triliun per 31 Maret 2026. Angka tersebut naik dari posisi Desember 2025 yang berada di level Rp9.637,9 triliun.
Purbaya mengatakan penilaian terhadap kesehatan utang negara seharusnya tidak hanya melihat nominal total utang, melainkan rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Menurut dia, rasio utang Indonesia saat ini masih berada di kisaran 40 persen atau tepatnya 40,75 persen terhadap PDB. Angka itu dinilai masih jauh di bawah batas aman yang lazim digunakan di banyak negara.
Ia mencontohkan standar rasio utang di kawasan Eropa yang mencapai 60 persen terhadap PDB. Bahkan, sejumlah negara tetangga Indonesia disebut memiliki rasio utang lebih tinggi.
Purbaya menyebut Singapura memiliki rasio utang sekitar 180 persen terhadap PDB, sementara Malaysia dan Thailand juga berada di level yang lebih tinggi dibanding Indonesia.
Ia juga membandingkan kondisi Indonesia dengan negara maju seperti Amerika Serikat dan Jepang yang rasio utangnya jauh lebih besar.
Menurutnya, Indonesia justru termasuk negara yang berhati-hati dalam mengelola pembiayaan negara dibanding banyak negara lain. Dalam pernyataannya, Purbaya bahkan menyinggung kritik publik terhadap utang pemerintah.
“Harusnya Anda muji kita, bukan lihat sisi negatif terus,” kata Purbaya saat berbicara di Kantor Kementerian Keuangan, dikutip Selasa (12/5/2026).
Ia mengibaratkan utang negara seperti perusahaan yang meminjam modal untuk mengembangkan usaha. Menurutnya, kemampuan membayar utang harus dilihat dari kapasitas ekonomi masing-masing negara.
Kementerian Keuangan juga memastikan pengelolaan utang dilakukan secara terukur dan hati-hati agar tetap mendukung stabilitas fiskal dan pengembangan pasar keuangan domestik.
Dari total utang yang ada, mayoritas berasal dari Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp8.652,89 triliun atau sekitar 87,22 persen. Sisanya berasal dari pinjaman dengan nilai Rp1.267,52 triliun.***






