Rupiah Sentuh Rp17.321 per Dolar AS, Terlemah Sepanjang Sejarah

Ilustrasi

KOMUNICA.ID – Nilai tukar rupiah sempat jatuh hingga Rp17.321 per dolar AS, menjadi level terlemah sepanjang sejarah perdagangan. Tekanan global yang kuat membuat rupiah sulit bertahan, terutama saat dolar AS terus menguat di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Rupiah Melemah di Tengah Kuatnya Dolar AS

Dalam perdagangan hari ini, rupiah tercatat melemah sekitar 2,5% dibanding posisi awal pekan. Penguatan dolar AS yang agresif, ekspektasi suku bunga tinggi, dan kekhawatiran geopolitik global menjadi faktor utama yang memicu pesimisme pasar.

Pelemahan rupiah sejalan dengan tren negatif di kawasan Asia, di mana sejumlah mata uang regional juga terdepresiasi terhadap dolar AS, seperti won Korea Selatan yang melemah 3,1%, yen Jepang 1,8%, ringgit Malaysia 2,0%, baht Thailand 1,6%, serta yuan Tiongkok yang turun 1,2%.

Tekanan pada mata uang Asia, termasuk rupiah, dipicu oleh sejumlah faktor seperti penguatan signifikan indeks dolar AS akibat ekspektasi suku bunga yang tetap tinggi, outflow investor dari pasar obligasi dan saham Asia, serta ketidakpastian geopolitik global yang mendorong pergerakan modal ke aset aman.

Selain itu, sentimen regional juga melemah seiring revisi turun proyeksi pertumbuhan global. Di tengah kondisi tersebut, Bank Indonesia disebut tetap melakukan langkah stabilisasi melalui intervensi pasar dan penguatan instrumen valas.

Tekanan pada rupiah bisa memicu sejumlah efek seperti kenaikan biaya impor terutama energi dan bahan baku yang kemudian mendorong inflasi pada barang konsumsi impor.

Biaya produksi industri juga berpotensi naik sehingga menekan margin, sementara ketidakpastian kurs dapat memperlambat arus investasi.

Meski begitu, otoritas moneter menegaskan bahwa cadangan devisa Indonesia masih cukup kuat untuk menjaga stabilitas jangka pendek.

Dalam waktu dekat, pergerakan rupiah akan sangat dipengaruhi dinamika global, terutama keputusan suku bunga AS dan kondisi geopolitik. Pasar masih berada pada fase volatil, sehingga nilai tukar dapat berubah cepat sesuai perkembangan sentimen global.