Pangkalan Militer AS di Kuwait Jadi Target Rudal Iran, Drone Tempur Rp490 Miliar Rusak

Pangkalan Militer AS di Kuwait rusak parah. Foto/Istimewa

KOMUNICA.ID – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah serangan rudal balistik yang dikaitkan dengan Iran menghantam area sekitar pangkalan militer AS di Kuwait. 

Insiden itu dilaporkan menyebabkan sejumlah personel Amerika mengalami luka ringan serta merusak dua drone tempur MQ-9 Reaper milik AS.

Laporan Bloomberg yang mengutip sumber terkait menyebut rudal tersebut mengarah ke Pangkalan Udara Ali Al Salem, salah satu fasilitas militer utama yang digunakan pasukan AS di kawasan Teluk.

Menurut laporan itu, sekitar lima orang mengalami luka ringan, termasuk anggota militer aktif dan kontraktor yang bekerja di pangkalan tersebut. Selain korban luka, dua unit drone MQ-9 Reaper dilaporkan mengalami kerusakan serius. 

“Satu drone disebut hancur, sementara satu lainnya mengalami kerusakan berat. Setiap unit MQ-9 Reaper diketahui memiliki nilai sekitar US$30 juta atau setara ratusan miliar rupiah,” kata Sumber Bloomberg, dikutip Komunica, Minggu (31/5/2026).

Sumber yang sama menyebut sistem pertahanan udara Kuwait berhasil mencegat rudal balistik Fateh-110 yang diluncurkan Iran sebelum mencapai target utama. Namun, serpihan rudal yang jatuh ke area pangkalan tetap memicu kerusakan dan menyebabkan korban luka.

Insiden tersebut terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara Washington dan Teheran yang dalam beberapa bulan terakhir terlibat saling serang di berbagai titik strategis kawasan Timur Tengah.

Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) sebelumnya menuding Iran telah meluncurkan rudal ke arah Kuwait dan menyebut tindakan itu sebagai pelanggaran serius terhadap kesepakatan gencatan senjata yang tengah berlangsung.

Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengakui pihaknya memang menargetkan pangkalan militer AS tersebut. Teheran menilai fasilitas itu digunakan sebagai titik peluncuran operasi militer Amerika yang sebelumnya menyerang lokasi di dekat Bandar Abbas.

IRGC menyebut serangan rudal tersebut sebagai bentuk peringatan kepada Washington dan menegaskan bahwa setiap tindakan yang dianggap agresif akan mendapat respons yang lebih besar di masa mendatang.

Serangan terbaru ini semakin menambah daftar eskalasi konflik yang melibatkan Iran dan Amerika Serikat sejak perang pecah pada akhir Februari lalu. 

Meski sempat tercapai gencatan senjata sementara melalui mediasi Pakistan, situasi di lapangan masih diwarnai insiden militer yang berpotensi memicu konflik lebih luas.

Hingga kini belum ada pernyataan resmi terbaru dari Pentagon terkait tingkat kerusakan pangkalan maupun langkah lanjutan yang akan diambil setelah serangan tersebut. 

Namun insiden di Kuwait kembali menunjukkan rapuhnya upaya perdamaian yang sedang berlangsung di kawasan Timur Tengah.***