Sejarah Berdirinya HMI 1947: Kegelisahan, Perdebatan, dan Keberanian Lafran Pane
KOMUNICA.ID – Pagi di Yogyakarta, 5 Februari 1947, berjalan seperti biasa. Di ruang kelas sederhana Sekolah Tinggi Islam, para mahasiswa duduk menyimak kuliah tafsir yang dipandu Husein Yahya. Suasana tenang, jauh dari hiruk-pikuk politik yang mengguncang negeri muda bernama Indonesia.
Namun ketenangan itu tak berlangsung lama. Seorang mahasiswa muda berdiri dari bangkunya. Dengan langkah mantap, ia maju ke depan kelas. Dialah Lafran Pane, sosok yang kelak dikenang sebagai pendiri Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).
Tanpa banyak basa-basi, ia langsung membuka pembicaraan. Hari itu, katanya, bukan sekadar hari kuliah. Hari itu adalah momen berdirinya organisasi mahasiswa Islam.
Sebuah pernyataan yang mengejutkan sekaligus menentukan arah sejarah. Untuk memahami keberanian itu, kita harus mundur setahun sebelumnya. Indonesia saat itu baru saja merdeka. Tahun 1946 menjadi masa penuh gejolak.
Di Yogyakarta yang menjadi salah satu pusat pergerakan mahasiswa dari berbagai latar belakang berhimpun dalam Perserikatan Mahasiswa Yogyakarta. PMY wadah bersama. Anggotanya datang dari berbagai kampus, mulai dari sekolah teknik hingga perguruan tinggi keagamaan.

Semangat persatuan begitu terasa. Namun di balik itu, muncul kegelisahan yang perlahan membesar. Sebagian mahasiswa, khususnya yang memiliki latar belakang Islam kuat, merasa aspirasi mereka tak sepenuhnya terakomodasi.
Nilai-nilai keagamaan yang mereka pegang seolah tak mendapat ruang yang cukup dalam diskursus organisasi. Lebih dari itu, dinamika politik mulai merasuki kehidupan kampus.
Dominasi kelompok tertentu yang kerap dikaitkan dengan arus pemikiran sosialisme membuat sebagian mahasiswa merasa arah gerakan mulai bergeser. Kegelisahan itu tidak hanya dirasakan mahasiswa Islam.
Mahasiswa dari latar belakang agama lain pun mulai mempertanyakan dominasi tersebut. Namun bagi Lafran Pane dan rekan-rekannya, persoalan ini menjadi semakin mendesak: bagaimana menjaga identitas keislaman tanpa kehilangan semangat kebangsaan?
Jawaban atas kegelisahan itu tidak lahir dalam semalam. Sejak akhir 1946, Lafran Pane aktif menggelar diskusi dengan sesama mahasiswa. Obrolan berlangsung di berbagai tempat di ruang kelas, asrama, hingga sudut-sudut kota.
Dari percakapan santai hingga perdebatan serius, satu gagasan mulai menguat: perlunya organisasi mahasiswa Islam yang independen. Pada November 1946, sebuah pertemuan besar digelar. Sekitar 30 mahasiswa hadir, membawa harapan akan lahirnya kesepakatan.
Namun harapan itu belum terwujud. Perdebatan berlangsung panjang. Ada yang setuju, ada pula yang ragu. Sebagian mempertanyakan urgensi organisasi baru, sebagian lain khawatir akan memecah persatuan mahasiswa.
Bagi banyak orang, itu mungkin tanda untuk berhenti. Tapi tidak bagi Lafran Pane. Alih-alih menunggu momentum ideal, Lafran memilih menciptakan momentum. Ia melihat peluang dalam situasi yang tak biasa: sebuah kelas kuliah tafsir.
Tanpa undangan resmi, tanpa persiapan formal yang terlihat, ia berdiri di depan kelas pada 5 Februari 1947. Dengan tegas, ia menyatakan bahwa organisasi mahasiswa Islam akan didirikan hari itu juga.
Keputusan itu terkesan sepihak. Namun di baliknya, tersimpan keyakinan yang matang bahwa semua persiapan sebenarnya telah dilakukan, dan yang dibutuhkan hanyalah keberanian untuk memulai.
Ia bahkan meminta Husein Yahya untuk memberikan sambutan. Namun permintaan itu ditolak, mungkin karena situasi yang tiba-tiba dan belum sepenuhnya dipahami. Meski demikian, roda sudah bergerak.
Para mahasiswa yang hadir dihadapkan pada pilihan: menolak atau melangkah bersama.
Dan mereka memilih yang kedua. Pada hari yang sama bertepatan dengan 14 Rabiul Awal 1366 Hijriahlahirlah Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).
Bukan sekadar organisasi, HMI membawa misi besar sejak awal:
– Mempertahankan Negara Republik Indonesia
– Meningkatkan derajat rakyat Indonesia
– Menegakkan dan mengembangkan ajaran Islam
Di tengah kondisi negara yang masih rapuh pascakemerdekaan, misi ini menjadi sangat relevan. HMI hadir bukan hanya sebagai organisasi mahasiswa, tetapi juga sebagai bagian dari perjuangan bangsa.
Tak ada panggung megah dalam kelahiran HMI. Tak ada sorotan besar. Hanya ruang kelas sederhana dan sekelompok mahasiswa dengan tekad kuat. Namun dari ruang sempit itu, lahir gerakan panjang.
Seiring waktu, HMI berkembang pesat. Organisasi ini menyebar ke berbagai kampus di seluruh Indonesia, menjadi wadah kaderisasi bagi generasi muda.Banyak tokoh nasional lahir dari rahim HMI mereka yang kemudian berkiprah di pemerintahan, dunia akademik, hingga gerakan sosial.
Lebih dari tujuh dekade berlalu, HMI tetap bertahan. Ia melewati berbagai era: dari masa revolusi, Orde Lama, Orde Baru, hingga Reformasi.
Kisah lahirnya HMI adalah kisah tentang keberanian mengambil keputusan di tengah ketidakpastian. Tentang bagaimana kegelisahan tidak berhenti pada keluhan, tetapi diubah menjadi gerakan nyata.
Dari sebuah ruang kelas di Yogyakarta, sejarah besar dimulai. Hingga hari ini, semangat itu masih hidup mengalir dalam setiap langkah kadernya, menjaga idealisme yang pernah diperjuangkan oleh Lafran Pane dan kawan-kawan.
Karena pada akhirnya, sejarah bukan hanya tentang masa lalu. Ia adalah tentang keberanian untuk memulai sesuatu meski dari tempat yang paling sederhana. (Sumber PB HMI).






