Operasi Dekat Iran Bikin Stres, Pelaut Kapal Induk AS Coba Bunuh Diri, Kok Bisa?

Kapal induk Amerika Serikat (AS) USS Abraham Lincoln. Foto/Istimewa

KOMUNICA.ID – Kondisi awak kapal induk Amerika Serikat (AS) USS Abraham Lincoln menjadi sorotan setelah sejumlah pelaut dilaporkan mengalami kelelahan berat dan masalah kesehatan mental selama menjalani penugasan panjang di kawasan dekat Iran.

Sejumlah keluarga awak kapal mengungkap adanya dugaan percobaan bunuh diri di tengah kondisi kerja yang disebut semakin berat.

Laporan tersebut disampaikan sejumlah media AS dengan mengutip keterangan keluarga pelaut yang bertugas di kapal induk tersebut.

Salah satu keluarga, Annabelle Loma mengatakan kepada Military Times bahwa petugas penghubung kapal memberitahunya bahwa suaminya sempat mencoba melompat dari kapal.

Menurut Loma, suaminya mengalami kelelahan parah selama menjalani penugasan. Ia juga disebut khawatir akan diberhentikan dari Angkatan Laut AS secara tidak hormat akibat kondisi tersebut.

“Dia berpikir akan diberhentikan secara tidak hormat, padahal itu terjadi hanya karena dia mengalami kelelahan yang sangat parah,” kata Loma kepada Military Times, dilansir Komunica, Rabu (12/8/2026).

Kekhawatiran serupa disampaikan Maria Rodriguez, istri seorang pelaut lainnya. Ia mengatakan suaminya pernah turun tangan dalam insiden berbeda untuk mencegah seorang rekannya melompat ke laut.

Media Stars and Stripes juga melaporkan adanya keluhan dari pelaut aktif dan keluarga mereka mengenai kondisi psikologis awak USS Abraham Lincoln.

Sejumlah pelaut menggambarkan suasana di kapal sebagai semakin suram. Laporan mengenai munculnya pikiran untuk bunuh diri juga disebut terjadi selama penugasan.

Seorang pelaut kepada media tersebut mengaku beban kerja yang terus berlangsung membuat semangat awak kapal menurun.

”Kami terus-menerus bekerja tanpa henti selama masa penugasan ini,” ujarnya.

Menurut laporan itu, moral awak kapal yang sebelumnya tinggi pada awal penugasan kini disebut mengalami penurunan.

USS Abraham Lincoln diketahui mulai menjalani penugasan pada akhir November. Awalnya, kapal tersebut dijadwalkan mengakhiri penugasan pada Mei. 

Namun, masa tugas kemudian diperpanjang tanpa kepastian waktu yang jelas. Kondisi tersebut diperburuk dengan periode panjang tanpa persinggahan rutin di pelabuhan. 

Padahal, persinggahan dibutuhkan untuk pengisian perbekalan, pemeliharaan kapal, sekaligus memberikan waktu istirahat bagi awak.

Laporan lain dari MS NOW yang mengutip keluarga awak kapal juga menyebut adanya persoalan persediaan kebutuhan sehari-hari.

Keluarga mengeluhkan sejumlah kebutuhan pokok di toko kapal, seperti pasta gigi, sabun, dan deodoran, kerap habis.

Angkatan Laut AS merespons laporan tersebut dengan menyatakan bahwa mereka terus melakukan evaluasi terhadap kondisi awak.

Angkatan Laut AS mengatakan pihaknya terus melakukan penilaian untuk memantau dan menjaga kesiapan psikologis setiap pelaut.

USS Theodore Roosevelt Disiapkan

Di tengah persoalan tersebut, Penjabat Menteri Angkatan Laut AS Hung Cao mengatakan gugus tempur kapal induk USS Theodore Roosevelt tengah dipersiapkan untuk menggantikan USS Abraham Lincoln.

Namun, Cao tidak memberikan jadwal pasti mengenai pergantian tersebut dengan alasan keamanan operasional. Situasi di kawasan itu berlangsung ketika konflik AS dan Israel dengan Iran memasuki periode panjang.

AS dan Israel melancarkan serangkaian serangan udara terhadap Iran pada 28 Februari. Iran kemudian memberikan perlawanan, sementara upaya perundingan damai belum menghasilkan terobosan berarti.

Sementara itu, Selat Hormuz yang menjadi jalur penting pelayaran internasional masih tertutup bagi sebagian besar aktivitas pelayaran.

Di dalam negeri AS, perang tersebut juga menghadapi persoalan dukungan publik.

Survei Economist/YouGov yang dirilis Selasa menunjukkan tingkat kepuasan terhadap Presiden Donald Trump berada di angka 33 persen. 

Angka tersebut disebut sebagai tingkat terendah yang dicatat YouGov sejak Trump kembali menjabat pada 2025.***