Dari Jalanan Surabaya ke Istana Negara, Ini Kisah Hidup Jenderal TNI Try Sutrisno
INDONESIA kehilangan salah satu putra terbaiknya. Jenderal TNI (Purn) Try Sutrisno, Wakil Presiden ke-6 Republik Indonesia, meninggal dunia di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta Pusat, Senin (2/3/2026).
Kepergiannya menutup perjalanan hidup seorang pejuang yang mengabdikan diri bagi bangsa, dari masa Revolusi Kemerdekaan hingga menempati kursi Wakil Presiden mendampingi Presiden Soeharto.
Lahir di Surabaya, Jawa Timur, pada 15 November 1935, Try Sutrisno adalah anak pasangan Soebandi, seorang sopir ambulans di Rumah Sakit Belanda, dan Mardiyah. Ia tumbuh di tengah gejolak kemerdekaan, merasakan kerasnya hidup pada masa pendudukan Belanda dan Jepang.
Ketika Belanda yang berkedok NICA mendarat di Surabaya, Jawa Timur. Keluarga Try terpaksa mengungsi ke Mojokerto. Untuk membantu keluarga, Try kecil berjualan air minum di stasiun, koran, dan rokok.
Sekitar 1948, Try menjadi Tobang (pesuruh) di markas tentara di Purwosari, Kediri. Kepercayaan yang diberikan kepadanya menuntunnya menjadi Penyidik Dalam Batalyon Poncowati, bertugas menyampaikan informasi vital kepada pejuang yang masih bertahan di Surabaya.
Masa-masa itu membentuk karakter Try: tangguh, cerdas, dan penuh disiplin. Setelah lulus SMA, Try Sutrisno mendaftar di Akademi Teknik Angkatan Darat (Atekad).
Meski gagal dalam pemeriksaan fisik pertama, ketekunan dan rekomendasi dari Mayor Jenderal GPH Djatikusumo membawanya kembali ke Atekad dan diterima. Di sinilah pengabdian militernya dimulai, menapaki tangga yang kelak membawanya ke pucuk pimpinan TNI.
Kariernya menanjak ketika Presiden Soeharto mencari ajudan baru. Try terpilih karena wajahnya disebut mirip Tommy Soeharto, putra Presiden. Meski awalnya terkejut, Try menerima tugas itu dengan kesadaran penuh akan tanggung jawab besar yang menanti.
Selama empat tahun, ia mendampingi Soeharto, tidak hanya dalam kunjungan resmi di dalam dan luar negeri, tapi juga menjaga kerahasiaan setiap kegiatan Presiden.
Setelah menjadi ajudan, Try menempati posisi strategis di tubuh TNI: Kasdam IX/Udayana, Pangdam IV/Sriwijaya, hingga Pangdam Jaya.
Di Kodam Jaya, ia menghadapi peristiwa penting seperti ledakan gudang mesiu di Cilandak dan kerusuhan massa di Tanjung Priok. Prestasinya terus membawanya naik: Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (Wakasad), Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), dan akhirnya Panglima ABRI.
Karier militernya yang cemerlang menandai era baru generasi pasca-45 di jajaran pimpinan TNI. Dedikasi dan integritasnya menjadi teladan bagi banyak perwira muda yang menapaki karier di militer.
Pada masa pemerintahan Presiden Soeharto, Try Sutrisno diangkat menjadi Wakil Presiden ke-6 RI. Dalam posisi ini, ia tidak hanya mendampingi Presiden, tapi juga mengambil bagian dalam kebijakan strategis dan membangun hubungan dengan berbagai elemen bangsa.
Kombinasi pengalaman militernya dan kecerdasannya dalam diplomasi membuat Try menjadi figur yang dihormati di dalam dan luar negeri.
Perjalanan hidup Try Sutrisno mencerminkan perjalanan panjang bangsa Indonesia: dari penderitaan masa revolusi, perjuangan membangun TNI yang profesional, hingga ikut mengawal jalannya pemerintahan.
Ia dikenal tegas, disiplin, dan selalu menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam, namun juga warisan sejarah dan teladan integritas bagi generasi muda.
Sosok Try Sutrisno akan terus dikenang sebagai jenderal, ajudan Presiden, Panglima ABRI, dan Wakil Presiden yang dedikasinya tak lekang oleh waktu.
“Try Sutrisno bukan hanya pahlawan bagi militer, tapi juga bagi bangsa. Perjalanan hidupnya adalah inspirasi bagi kita semua untuk mengabdi dan berjuang tanpa pamrih,” ujar sejarawan militer yang menulis biografi sang jenderal dikutip Komunica.id.





































































