Harga Minyak Dunia Naik, Ekonom UGM Nilai Ekonomi Indonesia Masih Stabil

Ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM) Muhammad Edhie Purnawan. Foto/Dok UGM.AC.ID

KOMUNICA.ID – Lonjakan harga minyak dunia akibat konflik melibatkan Iran dan Israel mulai menekan stabilitas ekonomi global. Harga minyak mentah bahkan menembus US$108 per barel, memicu kekhawatiran peningkatan inflasi, terutama di negara-negara pengimpor energi.

Ketegangan meningkat setelah Iran menutup Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Gangguan di titik strategis ini berdampak langsung pada distribusi energi global, khususnya ke kawasan Asia Pasifik.

Eskalasi konflik turut diperparah oleh keterlibatan Amerika Serikat dalam operasi militer di kawasan tersebut. Ketidakpastian geopolitik membuat pelaku pasar meningkatkan kewaspadaan, sementara harga energi terus bergerak naik. 

Kondisi ini berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi global seiring meningkatnya biaya produksi dan logistik.

Ekonom Universitas Gadjah Mada Muhammad Edhie Purnawan menilai fundamental ekonomi Indonesia masih relatif kuat di tengah tekanan tersebut.

Ia menyoroti PMI manufaktur Indonesia yang bertahan di level 53,8 serta pertumbuhan ekonomi kuartal IV 2025 sebesar 5,39% sebagai indikator ketahanan domestik.

“Cadangan devisa sekitar US$151,9 miliar menjadi bantalan penting untuk meredam gejolak pasar global,” kata Edhie, dikutip Komunica dari laman UGM, Jumat (27/3/2026).

Pemerintah, lanjutnya, memanfaatkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebagai instrumen utama untuk menjaga stabilitas, terutama melalui subsidi energi guna menahan tekanan harga di tingkat masyarakat.

Di sisi lain, Bank Indonesia juga menggelontorkan likuiditas melalui kebijakan makroprudensial serta mendorong penurunan bunga kredit ke kisaran 8,80%. Kebijakan ini ditujukan untuk menjaga perputaran ekonomi, khususnya bagi sektor usaha dan UMKM yang rentan terhadap kenaikan biaya modal.

Menurut dia, penutupan Selat Hormuz meningkatkan risiko gangguan pasokan energi global. Selain itu, eskalasi konflik juga membuka potensi ketegangan geopolitik berkepanjangan di kawasan Timur Tengah.

Dalam situasi ini, Indonesia dinilai memiliki posisi strategis sebagai negara dengan kekuatan ekonomi menengah (middle power) serta rekam jejak surplus perdagangan yang relatif konsisten.

Di dalam negeri, pertumbuhan ekonomi digital turut memperkuat daya tahan. Lonjakan transaksi QRIS menunjukkan akselerasi adopsi sistem pembayaran modern oleh masyarakat.

Meski demikian, Edhie mengingatkan pentingnya transformasi lanjutan, terutama di sektor energi, guna mengurangi ketergantungan terhadap impor dan menghadapi volatilitas harga global.

Ia menegaskan, jika sinergi kebijakan fiskal dan moneter terus dijaga, Indonesia tidak hanya mampu bertahan dari tekanan global, tetapi juga berpeluang memperkuat posisinya sebagai ekonomi yang lebih mandiri dan tangguh di tengah perubahan lanskap dunia.***