Profil Letjen TNI Yudi Abrimantyo, Karier Moncer dari Kopassus hingga Mundur dari BAIS

Eks Kabais Letnan Jenderal TNI Yudi Abrimantyo. Foto/IST

KOMUNICA.ID – Nama Letnan Jenderal TNI Yudi Abrimantyo mendadak menjadi perhatian setelah melepas jabatannya sebagai Kepala Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI. Keputusan itu muncul di tengah sorotan kasus penyiraman air keras yang menimpa aktivis Andrie Yunus.

Sebagai pucuk pimpinan BAIS, Yudi sebelumnya memegang kendali atas salah satu institusi paling strategis di tubuh TNIlembaga yang bertugas mengolah, menganalisis, dan menyajikan informasi intelijen pertahanan untuk kepentingan keamanan nasional.

Penyerahan jabatan tersebut dikonfirmasi oleh Kepala Pusat Penerangan TNI Aulia Dwi Nasrullah yang menyebut langkah itu sebagai bentuk pertanggungjawaban.

“Sebagai bentuk pertanggungjawaban, hari ini telah dilaksanakan penyerahan jabatan Kabais,” kata Aulia kepada awak media di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Rabu (25/3/2026).

Dia tak menjelaskan lebih rinci pergantian Kabais TNI itu, termasuk perihal sosok perwira tinggi yang menggantikan Yudi Abrimantyo. Adapun dalam kasus penyiraman air keras Andrie Yunus, Pusat Polisi Militer TNI telah menahan empat terduga pelaku tentara aktif dari satuan Bais TNI.

Jejak Karier Letjen TNI Yudi Abrimantyo

Yudi merupakan lulusan Akademi Militer tahun 1989 dari kecabangan infanteri. Ia mengawali karier militernya di satuan elite Komando Pasukan Khusus (Kopassus), sebelum kemudian lama berkecimpung di dunia intelijen.

Kariernya di bidang intelijen mulai menguat ketika ia menjabat sebagai Perwira Pembantu di Direktorat A BAIS TNI pada periode 2016-2018. Di posisi ini, ia terlibat dalam pengolahan produk intelijen strategis yang menjadi dasar pengambilan keputusan militer.

Perjalanan kariernya berlanjut ke lingkaran strategis Kementerian Pertahanan. Pada 2020–2021, Yudi dipercaya menjadi Sekretaris Direktorat Jenderal Strategi Pertahanan, saat kementerian tersebut dipimpin oleh Prabowo Subianto. 

Posisi ini menempatkannya dekat dengan perumusan kebijakan pertahanan nasional. Setelah itu, ia mengemban tugas sebagai Kepala Badan Instalasi Strategis Pertahanan dari 2021 hingga 2024, jabatan yang semakin mengukuhkan posisinya di jajaran elite pertahanan.

Karier Yudi mencapai puncaknya ketika ia naik pangkat menjadi perwira tinggi bintang tiga. Pada Maret 2024, Panglima TNI Agus Subiyanto menunjuknya sebagai Kepala BAIS TNI, menggantikan Rudianto yang dimutasi menjadi Komandan Jenderal Akademi TNI.

Sebagai Kabais, Yudi bertanggung jawab atas suplai analisis intelijen strategis baik yang bersifat aktual maupun proyeksi jangka pendek hingga panjang kepada Panglima TNI dan Kementerian Pertahanan.

Namun, masa jabatannya berakhir di tengah polemik serius. Kasus penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus menyeret nama institusi BAIS setelah sejumlah prajurit aktif diduga terlibat.

Insiden tersebut terjadi di kawasan Salemba, Jakarta Pusat, ketika korban diserang oleh pelaku yang berboncengan sepeda motor. Akibatnya, Andrie mengalami luka bakar serius hingga 24 persen, dengan cedera paling parah di bagian mata.

Pihak TNI melalui Polisi Militer menyatakan telah menahan empat prajurit aktif yang berasal dari satuan BAIS. Dugaan keterlibatan aparat inilah yang kemudian memperbesar tekanan publik terhadap institusi dan turut menjadi latar mundurnya Yudi dari jabatannya. ***