Jejak Sejarah PMII, Lahir 1960 Tumbuh Ditempa Badai Politik Orde Lama
KOMUNICA.ID – Kabut tipis menyelimuti lereng Kaliurang di Yogyakarta, Maret 1960. Di tengah udara dingin pegunungan, sekelompok pemuda berkumpul dengan satu kegelisahan yang sama: ke mana arah gerak mahasiswa Nahdlatul Ulama (NU)?
Mereka bukan sekadar pelajar. Mereka adalah mahasiswa yang mulai merasakan denyut zaman politik yang mengeras, ideologi yang saling berhadapan, dan kebutuhan akan ruang berpikir yang lebih luas.
Berdasarkan catatan PBNU, di forum Konferensi Besar Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) itu, sebuah keputusan penting lahir: mahasiswa NU membutuhkan wadah sendiri. Bukan lagi sekadar bagian dari organisasi pelajar, melainkan entitas yang berdiri dengan identitas gerakan.
Namun, gagasan ini bukan muncul tiba-tiba. Dua tahun sebelumnya, dalam Kongres IPNU 1958, ide pembentukan Departemen Perguruan Tinggi sudah mengemuka. Saat itu, jumlah mahasiswa dalam tubuh IPNU terus bertambah.
Tapi realitas berkata lain kebutuhan mahasiswa tak lagi bisa disamakan dengan pelajar. Ruang gerak yang sempit membuat aspirasi mereka kerap terhenti di tengah jalan. Sementara di berbagai kota, benih-benih pergerakan sebenarnya telah tumbuh.
Di Jakarta, berdiri IMANU. Di Surakarta, ada KMNU. Di kota-kota lain, muncul organisasi serupa dengan semangat yang sama: menghimpun mahasiswa NU. Namun, semuanya berjalan sendiri-sendiri. Tak ada simpul yang menyatukan.
Di sisi lain, panggung nasional sedang bergejolak. Era Orde Lama menjadikan politik sebagai poros kehidupan berbangsa. Organisasi mahasiswa bukan lagi sekadar ruang diskusi, melainkan bagian dari pertarungan ideologi.
Di tengah situasi itu, organisasi mahasiswa lain seperti Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) telah lebih dulu mapan dan memiliki pengaruh luas. Bagi mahasiswa NU, kondisi ini memunculkan kesadaran baru: mereka tak bisa terus berada di pinggiran.
Apalagi, NU saat itu merupakan kekuatan politik yang membutuhkan kader intelektual. Banyak posisi strategis justru diisi oleh tokoh dari luar, yang kemudian “didekatkan” ke NU. Kebutuhan akan kader sendiri menjadi semakin mendesak.
Sebanyak 13 tokoh muda dari berbagai daerahJakarta, Bandung, Yogyakarta, Surakarta, Semarang, Surabaya, Malang hingga Makassar bersepakat menjadi penggerak awal. Mereka bukan sekadar perwakilan daerah, melainkan simbol bahwa semangat ini bersifat nasional.
Sebulan setelah pertemuan di Kaliurang, mereka kembali berkumpul. Kali ini di Surabaya, pada 14-16 April 1960. Di kota pelabuhan yang panas dan penuh denyut aktivitas itu, sejarah dituliskan.
Perdebatan terjadi. Bahkan soal nama pun tak luput dari perbedaan. Ada yang mengusulkan nama panjang bernuansa ideologis, ada pula yang ingin tetap membawa identitas NU secara eksplisit.
Namun akhirnya, sebuah nama sederhana dipilih kuat, lugas, dan mencerminkan semangat zamannya: Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Alhasil, pada 17 April 1960, organisasi itu resmi berdiri.
Sejak awal, PMII tak hanya menjadi wadah intelektual, tetapi juga bagian dari dinamika politik nasional. Program-programnya banyak diarahkan untuk memperkuat posisi NU sebagai partai politik, sejalan dengan kondisi saat itu ketika politik menjadi “panglima”.
Namun di balik orientasi politiknya, PMII membawa misi yang lebih dalam: menjaga dan mengembangkan ajaran Islam Ahlusunnah wal Jamaah di kalangan mahasiswa.
Langkah organisasi ini terbilang cepat. Tak sampai setahun, PMII menggelar kongres pertama di Tawangmangu dengan 13 cabang. Tiga tahun kemudian, jumlah itu melonjak menjadi 31 cabang sebuah pertumbuhan yang mencerminkan besarnya kebutuhan mahasiswa akan wadah ini.
Dari masa ke masa, PMII melahirkan tokoh-tokoh yang kemudian dikenal di panggung nasional. Dari Mahbub Junaidi yang menjadi ketua umum pertama, hingga generasi berikutnya yang mewarnai politik, birokrasi, dan berbagai sektor kehidupan.
Lebih dari enam dekade berlalu, jejak langkah itu masih terasa. Dari kabut Kaliurang hingga panasnya Surabaya, PMII lahir bukan sekadar sebagai organisasi, tetapi sebagai jawaban atas kegelisahan zaman tentang identitas, peran, dan masa depan mahasiswa dalam sejarah Indonesia.***






