Menguak Misteri Gunung Padang, Situs Megalitikum Nusantara yang Lebih Tua dari Piramida Mesir

Gunung Padang di Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Foto/IST

KOMUNICA.ID – Gunung Padang terletak di Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Gunung Padang ini menyimpan kisah yang telah memikat perhatian para peneliti selama lebih dari satu abad. 

Sejak era kolonial Belanda, situs ini menjadi objek penelitian, sejauh ini masih menyimpan teka-teki yang belum terpecahkan. Ribuan batu besar yang tersusun rapi di bukit itu bukan sekadar tumpukan bebatuan biasa, melainkan saksi peradaban kuno yang pernah menguasai wilayah ini.

Salah satu keajaiban Gunung Padang adalah ukuran bebatuannya. Beberapa batu bahkan mencapai panjang 1,5 meter. Bagaimana batu-batu itu bisa dibawa dan ditempatkan di lokasi ini? Siapa yang mengangkatnya, dan alat apa yang digunakan? 

Pertanyaan-pertanyaan ini masih menjadi misteri. Menambah keunikan situs ini, permukaan batu menampilkan berbagai goresan dan lekukan, mulai dari garis-garis halus hingga lubang-lubang kecil, yang hingga kini belum bisa diterjemahkan maknanya.

Ketua Tim Kajian dan Pemugaran Situs Gunung Padang, Ali Akbar, mengungkapkan bahwa situs ini memiliki beberapa lapisan budaya. Lapisan termuda diperkirakan berusia sekitar 500 tahun sebelum Masehi.

Lapisan terdalam berada di bawah permukaan tanah, diperkirakan berusia sekitar 6.000 tahun sebelum Masehi. Temuan ini mengejutkan banyak pihak karena menempatkan Gunung Padang jauh lebih tua dibandingkan piramida Mesir yang berusia sekitar 2.500 tahun sebelum Masehi.

“Selain lapisan yang terlihat di permukaan, ada struktur lain di bawah tanah yang usianya lebih tua. Ini menunjukkan bahwa situs ini memiliki kompleksitas yang luar biasa,” kata Ali Akbar saat pencanangan pemugaran situs pada Desember 2025 silam.

Gunung Padang bukan sekadar tumpukan batu, melainkan punden berundak terbesar di Asia Tenggara, dengan lima teras yang bertingkat. Setiap teras dipenuhi balok-balok batu, sebagian rebah dan sebagian tegak. 

Menariknya, banyak batu di sini dipindahkan dari lokasi lain, menunjukkan keterampilan teknik yang mengesankan bagi peradaban kuno Nusantara.

Misteri Gunung Padang tak hanya soal usia dan bentuknya. Para peneliti menemukan indikasi adanya lapisan budaya ketiga yang bahkan mungkin lebih tua dari lapisan terdalam yang diketahui. 

“Lapisan ketiga ini masih kontroversial, tapi jelas situs ini memiliki beberapa lapisan budaya yang patut diteliti lebih jauh,” ujar Ali.

Di teras pertama, Ali menunjukkan sebuah batu tegak dengan tiga lubang sejajar di permukaannya detail yang hampir tak terlihat dari kejauhan. Sementara di teras kelima, terdapat menhir seberat 2,3 ton yang menampilkan simbol lekukan di permukaannya. 

Beberapa batu telah ditandai untuk direkonstruksi sesuai dokumen visual agar posisinya kembali menyerupai kondisi semula. Fokus utama pemugaran adalah memperkuat teras untuk mencegah longsor dan memperpanjang usia situs agar tetap dapat diteliti generasi mendatang.

Tidak semua pihak sepakat mengenai bentuk atau usia Gunung Padang. Truman Simanjuntak, Ketua Center for Prehistory and Austronesian Studies, menekankan bahwa undakan hanya terdapat di sisi selatan bukit, sedangkan sisi lain merupakan lereng alami. 

Menurutnya, situs ini lebih tepat disebut punden berundak, bukan piramida. Riset ke depan, kata Truman, sebaiknya fokus pada artefak, ekofakta, dan fitur sisa peradaban di kompleks punden, bukan mengejar “ruang rahasia” di dalam bukit.

Pemugaran situs ini juga menjadi simbol kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, dan pihak swasta. 

Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan, Restu Gunawan, menyebut keterlibatan filantropis dapat membantu konservasi cagar budaya, selama tidak mengganggu kelangsungan penelitian dan akses masyarakat. 

Prof. Danny Hilman Natawidjaja, ahli geologi, menambahkan bahwa batu-batu berusia ribuan tahun bahkan terlihat di permukaan, membuktikan bahwa Gunung Padang bukan situs sederhana.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menegaskan bahwa rekonstruksi Gunung Padang bukan hanya soal memperbaiki fisik situs, tapi juga menghormati peradaban leluhur Nusantara. 

“Leluhur kita memiliki teknologi dan sosiologi yang tinggi. Kita berkewajiban merawat warisan ini dan meneliti lebih dalam,” katanya.

Gunung Padang mengajarkan satu hal penting: sejarah Nusantara tak hanya tersimpan di buku atau cerita lisan, tapi juga tertulis di batu, menunggu generasi sekarang untuk membaca, meneliti, dan memaknai.

Dengan pemugaran dan penelitian yang berkelanjutan, misteri ribuan tahun ini perlahan bisa terungkap, tanpa kehilangan keajaibannya.***