Perang Iran-AS Guncang Rantai Pasok Chip Dunia, Industri AI Terancam
KOMUNICA.ID – Konflik yang melibatkan Iran mulai memberi tekanan serius pada rantai pasokan teknologi global, terutama sektor semikonduktor yang menjadi tulang punggung industri kecerdasan buatan (AI).
Ketegangan di kawasan Timur Tengah memicu kekhawatiran akan terganggunya distribusi mineral penting seperti helium dan aluminiumdua bahan krusial dalam produksi chip. Kondisi ini berpotensi memperlambat laju perkembangan teknologi, termasuk infrastruktur AI.
Ekonom kepala di Capital Economics Neil Shearing menilai risiko akan semakin besar jika konflik berlangsung lama. Menurut dia, gangguan terhadap pasokan helium bisa menjadi pukulan besar bagi industri semikonduktor global.
“Kekhawatiran pasar sudah mulai terlihat. Saham produsen chip seperti Samsung Electronics dan SK Hynix dilaporkan melemah tajam di indeks KOSPI,” kata Neil Shearing kepada Capital Economic, Dikutip Komunica.id, Selasa (24/3/2026).
Kedua perusahaan tersebut bersama Micron Technology merupakan pemasok utama chip memori global yang digunakan dalam pusat data dan pengembangan AI.
Produk mereka menjadi komponen penting bagi raksasa teknologi seperti Nvidia, Microsoft, hingga Apple. Salah satu titik krusial ada pada pasokan helium. Qatar diketahui menyumbang lebih dari sepertiga pasokan helium global.
Gas ini vital dalam proses pendinginan dan produksi chip. Namun, gangguan pada fasilitas energi seperti Kawasan Industri Ras Laffan milik QatarEnergy membuat produksi helium sempat terhenti.
Selain itu, negara seperti Israel dan Yordania juga berperan besar dalam pasokan bromin global bahan penting lainnya dalam manufaktur semikonduktor.
Sementara itu, distribusi aluminium yang menyumbang sekitar 8 persen produksi global juga terancam, terutama karena jalur perdagangan melalui Selat Hormuz menjadi titik rawan.
Tekanan rantai pasok mulai tercermin dari harga komoditas. Aluminium sempat melonjak ke level tertinggi dalam empat tahun terakhir. Analis dari ING, Ewa Manthey, menyebut gangguan distribusi sudah terjadi, ditandai dengan keterlambatan pengiriman dan perubahan rute logistik.
Jika gangguan berlanjut, harga aluminium berpotensi terus meningkat dan memperburuk biaya produksi industri teknologi. Situasi ini datang di tengah lonjakan permintaan chip akibat ekspansi besar-besaran infrastruktur AI.
Gangguan pasokan mineral berisiko menghambat produksi dan memperlambat inovasi teknologi. Analis teknologi global di Wedbush Securities Dan Ives menilai skenario terburuk akan terjadi jika konflik berkepanjangan.
“Jika situasi ini berlanjut hingga beberapa bulan ke depan, industri AI akan menghadapi tekanan besar dari sisi pasokan,” ujarnya.
Meski sejumlah perusahaan seperti TSMC dan GlobalFoundries mengaku telah menyiapkan langkah mitigasi, risiko tetap membayangi.
Ekonom David Oxley mengingatkan bahwa gangguan di Selat Hormuz atau kerusakan fasilitas LNG di Qatar bisa berdampak luas pada rantai pasok global.
Bahkan jika produksi kembali normal dalam waktu dekat, pemulihan penuh diperkirakan memakan waktu hingga beberapa bulan.
Situasi ini menegaskan bahwa konflik geopolitik tak hanya berdampak pada sektor energi, tetapi juga dapat “mencekik” industri teknologi global yang kini sangat bergantung pada stabilitas rantai pasok mineral strategis.***






