Selat Hormuz Memanas, Harga Minyak Dunia Bisa Tembus USD150 per Barel
KOMUNICA.ID – Harga minyak mentah dunia melonjak tajam dan menyentuh level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir setelah konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran terus memanas dan kini memasuki pekan kedua.
Lonjakan harga dipicu meningkatnya ketegangan setelah militer Amerika Serikat melancarkan serangan udara besar-besaran ke sejumlah fasilitas militer Iran. Eskalasi tersebut memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global.
Hingga Jumat 13 Maret 2026, minyak mentah jenis Brent crude oil diperdagangkan di atas USD103 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) mendekati level USD100 per barel.
Lonjakan harga minyak semakin dipicu oleh situasi di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi titik transit sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Gangguan di kawasan tersebut membuat pelaku pasar khawatir terhadap kelancaran distribusi energi global.
Mantan kepala ekonom International Monetary Fund (IMF) Olivier Blanchard menilai harga minyak berpotensi bertahan tinggi dalam waktu yang tidak singkat jika konflik terus berlanjut.
“Sulit untuk tidak menjadikan skenario utama bahwa harga minyak akan tetap sangat tinggi untuk waktu yang lama,” kata Blanchard seperti dikutip Komunica.id dari New York Post, Minggu (15/3/2026).
Lembaga keuangan RBC Capital Markets menyebut situasi saat ini sebagai krisis energi paling serius sejak embargo minyak pada dekade 1970-an. Volume lalu lintas kapal tanker di kawasan tersebut dilaporkan anjlok hingga 90 persen sejak akhir Februari.
Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, menyatakan negaranya akan menjaga Selat Hormuz tetap tertutup bagi armada Amerika Serikat sebagai bentuk respons atas eskalasi konflik.
Kebijakan tersebut muncul setelah pergantian kepemimpinan menyusul kematian Ali Khamenei pada awal konflik.
Di sisi lain, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan pihaknya telah meningkatkan intensitas serangan terhadap puluhan target militer Iran, termasuk di Pulau Kharg yang merupakan pusat ekspor minyak utama negara tersebut.
Meski fasilitas energi utama dilaporkan masih utuh, laporan dari Angkatan Laut AS menyebut pengawalan kapal tanker melalui Selat Hormuz masih berisiko tinggi. Media bisnis Fortune melaporkan lebih dari 400 kapal tanker saat ini tertahan di kawasan Teluk Persia.
Ketidakpastian ini mendorong lembaga energi global mengambil langkah darurat. International Energy Agency (IEA) diketahui telah melepas sekitar 400 juta barel minyak dari cadangan strategis untuk membantu menstabilkan pasar.
Namun langkah tersebut belum mampu menahan laju kenaikan harga. Analis dari Macquarie Group memperkirakan harga minyak dapat melonjak hingga USD150 per barel jika blokade di Selat Hormuz berlangsung lebih lama.
Dampak konflik juga mulai mengkhawatirkan pasar keuangan global. Bank investasi JPMorgan Chase memperingatkan bahwa defisit pasokan minyak hingga 16 juta barel per hari berpotensi menekan indeks saham S&P 500 hingga 10 persen.
Sejumlah ekonom pun mulai mengingatkan risiko munculnya stagflasi situasi ketika inflasi tinggi terjadi bersamaan dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi. Kondisi tersebut berpotensi memaksa Federal Reserve mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Dengan konflik yang terus meningkat, stabilitas ekonomi global kini berada dalam posisi rentan. Para pelaku pasar pun menunggu perkembangan berikutnya yang akan menentukan arah harga energi dan pasar keuangan dunia.






