Hari Kartini, KNPI Bekasi Soroti Pentingnya Ruang Aman bagi Perempuan
KOMUNICA.ID – Momentum peringatan Hari Kartini kembali menjadi refleksi atas perjuangan perempuan di Indonesia. Namun, di balik perayaan yang identik dengan kebaya dan seremoni, masih banyak perempuan yang menghadapi berbagai tantangan serius dalam kehidupan sehari-hari.
Wakil Ketua Ketenagakerjaan dan Transmigrasi KNPI Kota Bekasi, Syahriddin, menilai peringatan Hari Kartini seharusnya tidak berhenti pada simbol semata.
Ia menyoroti masih adanya ketidakadilan, kekerasan, hingga keterbatasan ruang aman bagi perempuan, baik di lingkungan sosial, pendidikan, maupun dunia kerja.
“Semangat Kartini sejatinya bukan hanya soal mengenakan kebaya, tetapi tentang keberanian berpikir, bersuara, dan memperjuangkan hak yang setara. Kartini mengajarkan bahwa perempuan harus diberi ruang untuk tumbuh, dihargai pendapatnya, serta dilindungi martabat dan keselamatannya.” Ujar Syahriddin.
Menurutnya, tantangan yang dihadapi perempuan saat ini semakin kompleks. Tidak hanya soal akses pendidikan, tetapi juga perlindungan dari berbagai bentuk kekerasan dan diskriminasi.
“Di era modern ini, tantangan perempuan tidak lagi hanya soal akses pendidikan, tetapi juga soal perlindungan dari kekerasan, pelecehan, diskriminasi, hingga ketimpangan kesempatan dalam kepemimpinan. Banyak perempuan masih dipaksa diam ketika mengalami ketidakadilan, seolah perjuangan mereka adalah persoalan pribadi, bukan tanggung jawab bersama.” Lanjut Syahriddin.
Ia menegaskan bahwa peringatan Hari Kartini harus menjadi momentum bersama untuk menghadirkan perubahan nyata. Negara, pemerintah daerah, lembaga pendidikan, dunia kerja, hingga keluarga dinilai memiliki tanggung jawab untuk menciptakan ruang aman bagi perempuan.
Ruang aman, kata dia, tidak cukup hanya menjadi slogan, tetapi harus diwujudkan melalui kebijakan konkret, perlindungan hukum, serta layanan pendampingan yang berpihak pada korban.
“Perempuan hari ini tidak hanya ingin dirayakan, tetapi juga ingin didengar. Mereka tidak hanya membutuhkan apresiasi simbolik, tetapi kepastian bahwa hak-haknya benar-benar dijaga. Kesetaraan bukan hadiah, melainkan hak yang harus dipenuhi. Melampaui kebaya, Hari Kartini adalah saat yang tepat untuk menagih janji: apakah perempuan benar-benar sudah aman, dihargai, dan diberi kesempatan yang sama? Karena bangsa yang maju bukan hanya yang mampu memuliakan perempuan dalam pidato, tetapi yang sungguh menghadirkan keadilan dalam kehidupan nyata. Kartini telah membuka jalan, kini tugas kita memastikan perjuangan itu tidak berhenti sebagai perayaan tahunan semata.” Tutup Syahriddin.






