Hindari Selat Hormuz, Negara Teluk Bangun Jalur Internet Darat ke Eropa

Ilustrasi Jaringan Kabel Internet Jalur Laut. Foto/Istimewa

KOMUNICA.ID – Negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar kini tidak hanya bersaing di sektor energi, tetapi juga dalam membangun “jalur baru” internet global. 

Mereka berlomba menciptakan koridor data berbasis darat yang melintasi Irak dan Suriah, sebagai alternatif kabel bawah laut yang selama ini mendominasi.

Langkah ini diambil untuk mengurangi ketergantungan pada jalur bawah laut di Selat Hormuz yang dinilai rentan terhadap gangguan, terutama dalam situasi konflik.

Selama ini, kabel serat optik bawah laut menjadi tulang punggung internet global karena kapasitas besar dan biaya yang relatif efisien. Namun, ketika konflik meningkat, jalur tersebut bisa menjadi titik lemah yang sulit diperbaiki jika rusak.

Pendekatan ini sejatinya bukan hal baru. Seperti halnya pembangunan pipa minyak darat yang dulu dirancang untuk menghindari jalur laut berisiko, kini konsep serupa diterapkan untuk infrastruktur digital.

Negara-negara Teluk mencoba memindahkan “arus data” dari laut ke darat, menciptakan rute alternatif yang dianggap lebih aman dan terkendali.

Persaingan ini semakin memanas setelah meningkatnya ketegangan regional yang berdampak pada infrastruktur digital, termasuk pusat data di kawasan Teluk yang menjadi simpul penting lalu lintas internet.

Enam Proyek Besar Berebut Jalur

Saat ini, setidaknya ada enam proyek besar yang tengah dikembangkan untuk menghubungkan kawasan Teluk dengan Eropa melalui jalur darat.

Salah satu yang paling maju adalah proyek SilkLink yang digarap oleh STC Group. Kabel sepanjang sekitar 4.500 kilometer ini dirancang melintasi Yordania dan Suriah hingga mencapai pesisir Mediterania. 

Tahap awalnya ditargetkan mulai beroperasi dalam waktu kurang dari dua tahun. Tak mau ketinggalan, Ooredoo dari Qatar mengembangkan proyek Fibre in Gulf (FiG), yang menghubungkan negara-negara 

Teluk dengan Irak dan berlanjut ke Turki. Nilai investasinya mencapai ratusan juta dolar AS. Sementara itu, proyek lain seperti WorldLink juga tengah dibangun oleh konsorsium swasta dengan nilai investasi sekitar 700 juta dolar AS. 

Jalur ini dirancang menghubungkan Uni Emirat Arab ke Irak dan wilayah Kurdistan, dengan target pasar operator global hingga aplikasi berbasis kecerdasan buatan (AI).

Meski menjanjikan, proyek-proyek ini menghadapi tantangan besar. Jalur darat yang direncanakan sebagian besar melewati wilayah dengan kondisi politik yang tidak stabil.

Konflik di Suriah dan Irak, serta ketidakpastian di beberapa kawasan Afrika dan Timur Tengah, menjadi ancaman nyata bagi keberlanjutan infrastruktur tersebut.

Selain itu, persoalan regulasi lintas negara juga menjadi hambatan serius. Setiap negara memiliki kebijakan berbeda terkait kepemilikan, tarif, hingga operasional jaringan, yang membuat koordinasi menjadi kompleks.

Di sisi lain, kabel bawah laut tetap unggul dari sisi biaya dan kapasitas. Karena itu, jalur darat belum tentu bisa sepenuhnya menggantikan peran infrastruktur yang sudah ada.

Taruhan Besar di Era Digital

Para ahli menilai, keberhasilan proyek ini sangat bergantung pada kemampuan negara-negara terkait untuk bekerja sama, bukan sekadar bersaing.

Jika berhasil, koridor darat ini bisa mengubah peta konektivitas global dan mengurangi risiko gangguan internet akibat konflik laut.

Namun jika gagal, proyek ambisius ini justru berpotensi menjadi investasi mahal di kawasan yang sarat ketidakpastian.

Bagi perusahaan teknologi global, keputusan untuk memanfaatkan jalur ini bukan sekadar soal efisiensi melainkan juga soal keamanan dan keberlangsungan operasional di tengah dinamika geopolitik yang terus berubah.