Kisah Raja Tarumanegara Bangun Kali Bekasi dengan Bersedekah 1.000 Sapi ke Brahamana

waktu baca 4 menit
Ilustrasi : Komunica.id

Komunica.id – Sungai Kali Bekasi yang berada di wilayah Bekasi, Provinsi Jawa Barat merupakan sungai peninggalan kerajaan kuno yang sudah ada sejak jaman dahulu kala. Konon dikisahkan sungai ini tak sengaja terbentuk dari sebuah lintasan seekor ular purba sangat besar.

Saking besar ular itu membuat tanah berkelok dan amblas membentuk sebuah saluran air. Kali Bekasi menjadi sangat penting saat Kerajaan Tarumanegara berkuasa di Nusantara dan menjadikan wilayah Bekasi sebagai Ibu Kota kerajaan.

Berdasarkan catatan Pemerintah Jawa Barat dan Bekasi, Kerajaan Tarumanegara merupakan kerajaan Hindu pertama di Pulau Jawa. Sebab, jejak kerajaan ini diketahui dari beberapa peninggalan prasasti dan Candi Jiwa di Batu Jaya, Kabupaten Karawang.

Disebutkan raja yang paling terkemuka dan banyak menorehkan jejak kemasyhuran Kerajaan Tarumanegara ini dianggap sebagai penjelmaan titisan dari Dewa Wisnu, yakni Maharaja Prabu Purnawarman yang memerintah Nusantara dari barat Pulau Jawa.

Kerajaan ini sangat maju dalam berbagai bidang teknologi khususnya bidang pertanian, perikanan, dan perdagangan. Sehingga kehidupan rakyatnya disebutkan sangat makmur. Di balik kemakmuranya tersebut, bencana banjir kerap menghantui wilayah kekuasaan kerajaan ini.

Banjir yang kerap terjadi di wilayah Jabodetabek ternyata sudah terjadi sejak jaman dahulu kala. Sebab, wilayah Bekasi dan sekitarnya mempunyai kontur tanah miring dari permukaan laut dan salah satu penyebab limpasan air genangan dan banjir kerap terjadi.

Raja Tarumanegara Prabu Purnawarman kemudian memprakarsai pembuatan saluran air untuk pertanian dan salah satu mencegah bencana banjir yang kerap melanda wilayah kekuasaanya, karena lahan pertanian dan permukiman rakyatnya kerap diterjang banjir.

Disebutkan dari bukti otentik peninggalan dalam Manuskrip Prasasati Tatar Sunda Kuno meyebutkan Kali Candrabhaga (Kali Bekasi) memang sengaja dibangun untuk mengendalikan banjir kuno di Ibu Kota Kerajaan Tarumanegara.

Hal itu diperkuat berbagai temuan parasasti di wilayah Jawa Barat dengan tulisan aksara Pallawa berbahasa Sanskerta menyebutkan keberadaan Kali Bekasi ini. Nama Bekasi juga diambil
dari nama Sungai Candrabhagha.

“Dulu Kali Candrabhagha (Kali Bekasi) di gali Purnawarman, Maharaja yang mulia yang mempunyai lengan kencang dan kuat. Setelah sampai ke istana, kali (sungai) dialirkan ke laut. Istana Kerajaan Baginda Termashur.

Kemudian baginda Parnuwarman menitahkan lagi menggali sebuah kali (sungai). Kali ini sangat indah dan jernih. Kali ini di sebut kali Gomati. Kali ini mengalir melalui kediaman nenekanda Raja Purnawarman.

Kali Gomati, (galian itu ) 6.122 tumbak panjangnya, dan pekerjaan ini di mulai pada hari baik, pada tanggal 8 Paro Petang Bulan Phalguna. Kemudian disudahi pada hari tanggal ke 13 Paro Terang Bulan Caitra.

Jadi hanya 21 hari saja, untuk itu diadakan selamatan yang dilaksanakan para kaum Brahmana. Untuk selamatan itu, Raja Purnawarman menghadiahkan 1.000 ekor sapi,”.

Dari tulisan itu membuktikan bahwa Raja Purnawarman pernah memerintahkan untuk penggalian Kali Candrabhagha (Kali Bekasi) lalu Kali Gomati. Dari sini bisa kita lihat, Purnawarman adalah raja yang sangat memperhatikan rakyatnya.

Penggalian ini sangat memeperhatikan kesejahteraan rakyat dan membuktikan pengetahuan bertani KerajaanTarumanegara sudah cukup maju pada jamannya. Sungai itu sengaja digali untuk meneruskan air dari hulu di Bogor hingga Bekasi ke laut Utara Jawa.

Raja Purnawarman merupakan putra Rajaresi Darmayawarmanguru putra Jayasingawarman. Maharesi Jayasingawarman, pendiri kerajaan Tarumanagara adalah menantu sang Prabu Dewawarman VIII, raja terakhir kerajaan Salakanagara.

Kerajaan Salakanagara berkuasa dari 130-362 M (232 tahun) yang beribu kota di Rajatapura, Pandeglang sekarang. Dinasti Warman merupakan penerus Kerajaan Salakanagara. Purnawarman lahir tanggal 8 bagian gelap bulan Palguna tahun 294 Saka (16 Maret 372 Masehi).

Dalam naskah Wangsakerta juga disebutkan bahwa di bawah kekuasaan Purnawarman terdapat 48 raja daerah yang membentang dari Salakanagara atau Rajatapura (di daerah Teluk Lada, Pandeglang) sampai ke Purwalingga (sekarang Purbalingga) di Jawa Tengah.

Secara tradisional Cipamali (Kali Brebes) dianggap batas kekuasaan raja-raja penguasa Jawa Barat masa silam. Selama masa pemerintahannya, Purnawarman telah menaklukan kerajaan-kerajaan lain di Jawa Barat, yang belum tunduk kepada kekuasaan Tarumanagara.

Semua musuh yang diserangnya, selalu dapat dikalahkan dan dia dijuluki Harimau Tarumanegara. Purnawarman menguasai berbagai ilmu dan siasat berperang, yang menjadikan dirinya, sebagai seorang raja yang perkasa dan dahsyat.

Tak ada senjata musuh yang dapat melukainya karena mengenakan baju pelindung besi dari kepala sampai ke kaki. Sehingga, raja yang bergelar titisan dewa wisnu ini sangat disegani dengan kewibawaannya dan kesaktiaanya.