UEA Resmi Keluar dari OPEC, Pasar Minyak Global Langsung Bergejolak

KOMUNICA.ID – Keputusan Uni Emirat Arab keluar dari OPEC pada 28 April 2026 mengguncang pasar energi global. Setelah hampir enam dekade menjadi bagian dari kartel minyak paling berpengaruh di dunia, langkah ini dinilai sebagai sinyal perubahan besar dalam peta kekuatan minyak dunia.

Ekonom Steve Hanke menyebut keputusan tersebut dengan istilah tajam: “Take the money and run”. Menurutnya, Abu Dhabi kini memilih memaksimalkan pendapatan minyak secepat mungkin, alih-alih terikat kuota produksi OPEC di tengah meningkatnya risiko geopolitik.

“Awalnya ada penolakan di internal OPEC. Tapi perang di Iran mengubah segalanya dan menciptakan risiko jangka panjang yang jauh lebih besar,” kata Hanke dalam keterangannya, dikutip Komunica.id, Senin (4/5/2026).

Dalam pernyataan resmi, UEA tidak menyinggung konflik kawasan. Pemerintah hanya menekankan bahwa keputusan ini merupakan bagian dari strategi ekonomi jangka panjang dan transformasi sektor energi, termasuk dorongan investasi besar pada produksi domestik.

Namun di balik bahasa diplomatis tersebut, arah kebijakan UEA terlihat jelas: meningkatkan produksi minyak melampaui batasan OPEC. Pemerintah menyebut tambahan pasokan akan dilakukan secara bertahap, menyesuaikan kondisi pasar global.

Strategi “Pompa Sekarang, Maksimalkan Untung”

Hanke mengungkap bahwa UEA telah lama memiliki model ekonomi yang mendorong produksi minyak agresif. 

Logikanya sederhana: jika harga minyak diproyeksikan turun di masa depan baik karena inflasi maupun transisi energi hijau maka produksi harus dipercepat hari ini untuk mengunci keuntungan.

Dengan investasi besar yang menargetkan kapasitas hingga 5 juta barel per hari, kebijakan kuota OPEC selama ini dianggap membatasi ambisi tersebut. 

Ancaman energi terbarukan seperti solar, hidrogen, hingga bahan bakar ramah lingkungan juga memperkuat dorongan untuk “menguangkan” cadangan minyak secepat mungkin.

Faktor Iran dan Retaknya Hubungan Teluk

Meski dibungkus alasan ekonomi, Hanke menilai konflik dengan Iran menjadi pemicu utama. Serangan terhadap fasilitas energi di kawasan Teluk meningkatkan risiko gangguan pasokan secara drastis.

Menurutnya, skenario terburuk bukan hanya harga minyak turun, tetapi ketidakmampuan menjual minyak sama sekali jika jalur distribusi terganggu, termasuk potensi ancaman di Selat Hormuz.

Di sisi lain, hubungan UEA dengan Arab Saudi juga mengalami tekanan. Perbedaan kepentingan geopolitik di sejumlah konflik kawasan memperlemah koordinasi kedua negara yang selama ini menjadi pilar OPEC.

Dampak Global: Risiko Perang Harga Minyak

Keluarnya UEA membuka ruang bagi negara tersebut untuk meningkatkan produksi tanpa batas kuota. Kondisi ini berpotensi memicu perang harga baru di pasar minyak global, terutama jika Abu Dhabi memilih strategi produksi agresif.

Langkah ini juga dapat melemahkan dominasi Arab Saudi dalam mengendalikan suplai dan harga minyak dunia. Di tengah meningkatnya tensi geopolitik, stabilitas pasokan energi global kini menghadapi risiko baru.

“UEA punya insentif kuat untuk menarik produksi ke masa sekarang, bukan masa depan,” kata Hanke.

Keputusan ini menjadi salah satu kejutan terbesar di pasar energi tahun ini dan bisa menjadi awal dari pergeseran besar dalam lanskap industri minyak global.***