Hantavirus Bikin Dunia Waspada, Moderna Bergerak dengan Teknologi mRNA
KOMUNICA.ID – Wabah hantavirus di kapal pesiar MV Hondius membuat dunia kembali waspada terhadap ancaman virus mematikan. Atas kekhawatiran itu, perusahaan bioteknologi asal Amerika Serikat, Moderna telah mengembangkan vaksin hantavirus sejak 2023.
Fakta tersebut terungkap setelah Moderna mengonfirmasi kerja sama riset dengan Vaccine Innovation Center Korea University College of Medicine (VIC-K) di South Korea.
Kolaborasi itu fokus mengembangkan vaksin berbasis teknologi mRNA untuk melawan hantavirus, virus yang kini menjadi sorotan global usai wabah di kapal pesiar Belanda MV Hondius.
Kasus di kapal tersebut memicu perhatian internasional setelah sejumlah penumpang dan awak dilaporkan terinfeksi. Sedikitnya tiga orang meninggal dunia dan beberapa lainnya mengalami kondisi serius.
Yang membuat situasi makin mengkhawatirkan, hingga kini belum ada vaksin hantavirus yang resmi digunakan secara luas di Europe, United States maupun Amerika Latin.
Perhimpunan Imunologi Spanyol bahkan menegaskan belum ada vaksin berlisensi untuk mencegah infeksi Andes virus (ANDV), salah satu jenis hantavirus paling berbahaya.
Selama ini penanganan pasien lebih difokuskan pada pengobatan gejala dan penguatan respons imun tubuh karena belum tersedia terapi spesifik. Di tengah keterbatasan itu, Korea Selatan justru menjadi salah satu negara paling serius mengantisipasi hantavirus.
Negara tersebut mencatat ratusan kasus setiap tahun dan memasukkan hantavirus sebagai salah satu ancaman prioritas pandemi masa depan. Sebenarnya Korea Selatan telah memiliki vaksin generasi lama bernama Hantavax.
Namun efektivitasnya dianggap terbatas karena masih menggunakan metode lama berbasis jaringan otak hewan. Karena itu, pengembangan vaksin mRNA generasi baru dianggap jauh lebih modern dan menjanjikan.
Moderna mulai menjalin kerja sama pengembangan vaksin hantavirus dengan VIC-K pada September 2023 lewat program mRNA Access. Program itu memungkinkan lembaga akademik mengakses kandidat vaksin mRNA untuk penyakit menular berisiko tinggi.
Teknologi mRNA sendiri sebelumnya sukses digunakan Moderna dalam pengembangan vaksin COVID-19 saat pandemi global. Kini perusahaan tersebut juga mengembangkan vaksin untuk sejumlah ancaman lain seperti flu burung dan norovirus.
Mantan Menteri Kesehatan RI Siti Fadilah Supari bahkan memperkirakan hantavirus berpotensi menjadi pandemi berikutnya, meski pola penyebarannya disebut berbeda dari Covid-19.
Menurut dia, wabah virus di masa depan kemungkinan muncul secara sporadis di sejumlah wilayah dunia dan tidak selalu menyebar serentak.
Meski demikian, World Health Organization menegaskan wabah hantavirus di MV Hondius belum bisa disebut sebagai awal pandemi global.
WHO menyebut penularan antarmanusia hantavirus sejauh ini hanya terjadi melalui kontak sangat dekat.
Namun pengalaman pandemi Covid-19 membuat banyak pihak mulai menilai pengembangan vaksin jauh sebelum wabah besar terjadi menjadi langkah penting untuk mencegah krisis kesehatan global berikutnya.***






