Waspada! Cuaca Ekstrem Masih Intai Kota Bekasi hingga Minggu 13 Juli 2025
BEKASI, Komunica.id – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bekasi mengingatkan warganya untuk tetap waspada dan bersiaga banjir. Sebab, prakiraan cuaca ekstrem dari BMKG masih berpotensi terjadi hingga 13 Juli 2025.
Pemerintah daerah di wilayah Jabodetabek pun telah meningkatkan kewaspadaan menghadapi cuaca ekstrem ini. BPBD Kota Bekasi bersiaga dan terus memantau debit air dari hulu Sungai Cileungsi dan Cikeas.
“Hujan ekstrem akan berlangsung hingga Minggu 13 Juli 2025, jadi potensi banjir susulan dan luapan dari Kali Bekasi bisa terjadi. Kami tetap siaga dan memantau cuaca,” kata Kasi Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Kota Bekasi Idham Khalid, Sabtu (12/7/2025).
Menurut dia, petugas akan terus disiagakan di semua wilayah rawan banjir menyusul perkiraan cuaca ekstrim yang diterima dari BMKG. Terutama warga yang tinggal di sepanjang DAS Kali Bekasi untuk terus waspada.
“Terutama yang berada di bantaran kali atau DAS Kali Bekasi ini kita sampaikan setiap saat. Karena memang diperkirakan juga menurut BMKG mulai tanggal 5 sampai 13 Juli itu memang perlu diwaspadai cuaca ekstrim yang kita tidak tahu kapan datang dan perginya hujan,” paparnya.
Bagi warga di sepanjang aliran kali Bekasi, dampak dari hujan dan kiriman air dari hulu yang terjadi pekan lalu lebih besar dibandingkan yang terjadi pada akhir pekan ini. Pasalnya, TMA sungai Cileungsi juga menunjukkan peningkatan.
Sementara itu, BMKG menyampaikan bahwa dinamika atmosfer yang tidak lazim telah menyebabkan musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia mundur, sekaligus meningkatkan potensi cuaca ekstrim beberapa pekan terakhir.
Mundurnya musim kemarau tahun ini merupakan dampak dari lemahnya Monsun Australia dan tingginya suhu muka laut di selatan Indonesia. Kedua faktor tersebut menyebabkan tingginya kelembaban udara yang memicu terbentuknya awan hujan.
Bahkan di tengah periode yang seharusnya kering. Hingga akhir bulan Juni, baru sekitar 30 persen wilayah zona musim yang mengalami peralihan ke musim kemarau.
“Padahal secara klimatologis, pada waktu yang sama, biasanya sekitar 64 persen wilayah Indonesia sudah memasuki musim kemarau,” kata kepala BMKG, Dwikorita Karnawati beberapa waktu lalu.
Kondisi ini diperburuk oleh fenomena atmosfer seperti aktifnya Madden-Julian Oscillation (MJO) dan gelombang ekuator (Kelvin dan Rossby Equator) yang mendukung pembentukan awan konvektif dan memperbesar potensi hujan lebat.
“Kendati ENSO dan IOD berada dalam fase netral dan diperkirakan akan tetap netral hingga akhir tahun, curah hujan diatas normal masih terus terjadi di sebagian besar wilayah Indonesia sejak Mei dan diperkirakan berlangsung hingga Oktober 2025,” ungkapnya. (adv)





































































