‘Bocah Ledok’, Kisah Anak Kampung Betawi yang Bangkit dari Keterbatasan

Penulis buku Bocah Ledok, R Nur Alam bersama Rizki Topananda. Foto/Komunica

KOMUNICA.ID – Perjalanan hidup penuh keterbatasan yang dialami Rizki Topananda kini diabadikan dalam sebuah buku berjudul Bocah Ledok. 

Buku ini mengangkat kisah perjuangan seorang anak muda yang tumbuh dengan banyak cibiran, namun berhasil bangkit dan menjadikan hinaan sebagai motivasi hidup.

Pria yang akrab disapa Ujang itu disebut melewati masa kecil dan remaja dengan kondisi ekonomi serba terbatas. Tak sedikit orang yang meremehkannya. Namun, pengalaman pahit tersebut justru membentuk mentalnya untuk terus belajar dan bertahan menghadapi tekanan hidup.

Penulis buku, R Nur Alam, mengaku awalnya ingin mengangkat perjalanan politik Rizki. Akan tetapi, setelah mendengar langsung kisah hidupnya, ia menemukan pesan perjuangan yang dinilai lebih kuat dan dekat dengan kehidupan banyak orang.

“Awalnya ingin mengangkat perjalanan politik. Tapi setelah mendalami cerita hidupnya, ternyata ada nilai perjuangan yang jauh lebih besar,” kata Alam, Senin (18/5/2026).

Judul Bocah Ledok sendiri dipilih karena memiliki makna yang lekat dengan stigma sosial di lingkungan Betawi dan Bekasi. Istilah “bocah ledok” kerap digunakan untuk merendahkan anak muda yang dianggap belum punya pengalaman atau berasal dari kalangan bawah.

Namun di balik sebutan tersebut, tersimpan cerita tentang semangat membuktikan diri di tengah keraguan orang lain.

“Justru dari hinaan itu lahir semangat untuk berkembang. Ini bukan hanya cerita satu orang, tapi gambaran perjuangan hidup yang banyak dialami masyarakat,” ujarnya.

Dalam buku tersebut juga diceritakan bagaimana Rizki dibesarkan dengan nilai kesabaran dan ketekunan sejak kecil. Meski sering dipandang sebelah mata, ia memilih fokus menjalani proses hidup tanpa membalas cibiran dengan kemarahan.

Menurut Alam, salah satu pesan utama dalam buku itu adalah pentingnya tetap belajar dan terus berjalan meski berada dalam kondisi sulit.

Sementara itu, Rizki Topananda mengaku tak pernah menyangka perjalanan hidupnya akan ditulis menjadi buku. Ia berharap Bocah Ledok bisa menjadi penyemangat bagi masyarakat yang sedang berjuang menghadapi keterbatasan ekonomi dan tekanan hidup.

“Buku ini bukan tentang menjual penderitaan. Tapi tentang bagaimana seseorang tetap bertahan dan terus berjuang dalam kondisi apa pun,” katanya.

Rizki mengatakan proses penulisan buku berjalan secara alami melalui berbagai diskusi dan wawancara bersama keluarga serta orang-orang terdekatnya. 

Dalam waktu dekat, buku tersebut direncanakan mulai dipasarkan melalui marketplace, media sosial, hingga jaringan toko buku.***