Banjir Informasi dan AI Jadi Tantangan Baru Dunia Komunikasi di Indonesia

Simposium Nasional, Deklarasi, dan Pelantikan Pengurus Pusat Asosiasi Dosen dan Peneliti Ilmu Komunikasi Indonesia (ADPIKI) di IPB International Convention Center, Kabupaten Bogor, Kamis (7/5/2026). Foto/ADPIKI

KOMUNICA.ID – Di tengah banjir informasi, dominasi algoritma media sosial, hingga maraknya disinformasi, kalangan akademisi komunikasi mendorong lahirnya kolaborasi riset dan penguatan literasi digital untuk menjaga kualitas ruang publik.

Hal itu mengemuka dalam Simposium Nasional, Deklarasi, dan Pelantikan Pengurus Pusat Asosiasi Dosen dan Peneliti Ilmu Komunikasi Indonesia (ADPIKI) di IPB International Convention Center, Bogor, Kamis (7/5/2026).

Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria menyoroti perubahan besar pola komunikasi masyarakat di era digital. Menurut dia, media arus utama kini tak lagi menjadi sumber informasi karena setiap orang dapat menjadi produsen penyebar informasi melalui media sosial.

“Hari ini semua orang bisa menjadi sumber berita dan algoritma memiliki pengaruh besar dalam menentukan apa yang dilihat dan dipercaya publik,” kata Arif Satria dalam keterangan tertulisnya, Kamis (7/5/2026).

Ia menilai komunikasi digital saat ini semakin didorong oleh logika viralitas dibanding substansi informasi. Kondisi itu, menurutnya, memunculkan tantangan serius dalam membangun kepercayaan publik di tengah derasnya arus informasi dan persaingan narasi di ruang digital.

“Komunikasi pada akhirnya bukan hanya soal teknologi, tetapi bagaimana membangun relasi sosial dan menghadirkan kredibilitas yang dipercaya masyarakat,” ucapnya.

Ketua Dewan Pertimbangan ADPIKI Anter Venus mengatakan perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) turut memunculkan fenomena banjir informasi yang berdampak pada meningkatnya misinformasi, disinformasi, hingga infodemi.

Menurut dia, ilmu komunikasi kini memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan informasi yang beredar tetap faktual, etis, dan mampu mencerdaskan masyarakat.

“Di era digital dan AI, komunikasi bukan lagi sekadar proses penyampaian pesan, tetapi menjadi arena pembentukan realitas sosial,” kata Anter.

Ia menambahkan, masyarakat saat ini menghadapi tekanan informasi yang semakin besar akibat derasnya arus konten digital yang bersifat personal, interaktif, dan sangat dipengaruhi algoritma media sosial. 

Karena itu, penguatan literasi digital, kemampuan verifikasi informasi, serta etika penggunaan AI dinilai menjadi kebutuhan mendesak.

Sementara itu, Ketua Umum ADPIKI Heri Budianto mengatakan pembentukan ADPIKI menjadi langkah konsolidasi untuk memperkuat posisi dosen dan peneliti ilmu komunikasi dalam mendukung transformasi pendidikan tinggi dan riset nasional.

Menurut Heri, selama ini belum ada wadah nasional yang secara khusus merepresentasikan dosen dan peneliti komunikasi dalam kebijakan pendidikan tinggi maupun pengembangan riset nasional.

“ADPIKI hadir untuk membangun representasi kolektif dosen dan peneliti ilmu komunikasi, memperkuat jejaring riset, serta mendorong hilirisasi inovasi komunikasi agar lebih berdampak bagi masyarakat,” kata Heri.

Ia berharap ADPIKI dapat menjadi ruang kolaborasi antara akademisi, pemerintah, industri, hingga praktisi komunikasi dalam menjawab berbagai tantangan di era digital, mulai dari literasi publik, tata kelola informasi, demokrasi digital, hingga pengembangan industri kreatif.

Kegiatan tersebut juga dihadiri sejumlah akademisi komunikasi dari berbagai perguruan tinggi, organisasi profesi nasional, hingga mitra internasional dari University of British Columbia (UBC), Kanada. 

Selain simposium nasional, agenda dilanjutkan dengan deklarasi resmi pendirian ADPIKI, pelantikan pengurus pusat periode 2026–2031, dan rapat kerja nasional perdana organisasi tersebut.***