Tarling di Medan Satria, Wali Kota Bekasi Singgung Jalan Rusak Akibat Galian FO
BEKASI, Komunica.id – Malam ke-10 Ramadan dimanfaatkan Wali Kota Bekasi Tri Adhianto untuk melaksanakan tarawih keliling (tarling) di Masjid Asy-Syuhada, Kelurahan Pejuang, Kecamatan Medan Satria.
Kegiatan itu tak sekadar menjadi agenda ibadah bersama warga, tetapi juga ruang dialog dan penyampaian program prioritas Pemerintah Kota Bekasi. Tri menegaskan Tarawih Keliling agenda terjadwal yang berbeda dengan inspeksi mendadak (sidak) maupun kunjungan kerja biasa.
Menurut dia, tarling menjadi sarana efektif bagi pemerintah untuk hadir langsung di tengah masyarakat dalam suasana yang lebih hangat dan komunikatif.
“Momentum ibadah Ramadan melalui Tarawih Keliling menjadi ruang efektif untuk hadir langsung di tengah masyarakat. Ini sudah terjadwal dan berbeda dengan sidak. Melalui Tarling, kami bisa menyosialisasikan program-program prioritas yang sedang dijalankan,” kata Tri.
Salah satu isu yang mengemuka dalam kesempatan tersebut ialah penertiban galian fiber optik yang belakangan dikeluhkan warga.
Tri mengungkapkan, laporan masyarakat yang disampaikan melalui media sosial, khususnya Instagram, telah ditindaklanjuti dengan peninjauan lapangan dan penghentian pekerjaan di lokasi yang dinilai bermasalah.
Ia menilai, penggalian jalan yang tidak disertai penanganan sesuai prosedur berpotensi merusak infrastruktur yang sebelumnya telah dibangun menggunakan anggaran pemerintah. Karena itu, Pemkot Bekasi akan mengambil langkah tegas apabila ditemukan pelanggaran.
“Sesuai arahan Gubernur Jawa Barat, perusakan jalan yang sudah dibangun dengan baik kemudian digali tanpa penanganan semestinya bisa diproses secara hukum. Kalau ada pelanggaran merusak fasilitas umum, kami akan laporkan ke pihak berwajib,” tegasnya.
Menurut dia, langkah tersebut dilakukan demi menjaga kelancaran akses dan keselamatan pengguna jalan. Galian yang tidak ditangani dengan baik kerap membuat kondisi jalan kembali rusak dan menimbulkan ketidaknyamanan bagi warga.
Selain membahas penertiban galian, Tri menyebut setiap pelaksanaan Tarling menjadi sarana penyampaian aspirasi secara langsung. Berbagai persoalan, mulai dari infrastruktur hingga pelayanan publik, disampaikan warga seusai salat tarawih dan menjadi bahan evaluasi pemerintah.
“Setiap selesai Tarling biasanya ada aspirasi yang disampaikan warga. Itu justru menjadi kesempatan bagi kami untuk segera meninjau dan menindaklanjuti persoalan di wilayah tersebut,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Tri juga memaparkan program dana hibah RW “Bekasi Keren” yang diharapkan dapat memperkuat peran RT dan RW dalam membantu lurah dan camat menjaga ketertiban serta kualitas lingkungan.
Program tersebut dirancang untuk mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam pembangunan dan pengawasan di tingkat wilayah. (ADV)




































































