Artikel

Internet of Energy dan Desa Energi Indonesia: Saat Desa Menjadi Subjek Transisi Energi

waktu baca 4 menit
Foto: Fivit Marwita (Mahasiswa Doktoral Teknik Elektro Telkom University)

KOMUNICA.ID | Transisi energi kerap dipahami sebagai agenda besar yang berlangsung di ruang-ruang kebijakan nasional dan forum global. Kita membicarakan bauran energi, target penurunan emisi, atau proyek pembangkit skala raksasa. Namun, bagi jutaan warga desa di Indonesia, transisi energi memiliki makna yang jauh lebih sederhana dan konkret: listrik yang menyala stabil, terjangkau, dan mampu mendukung kehidupan sehari-hari.

Dalam konteks inilah, konsep desa energi dan Internet of Energy (IoE) menjadi penting. Keduanya bukan sekadar istilah teknis, melainkan pendekatan nyata untuk menjawab tantangan ketimpangan energi di Indonesia – negara kepulauan dengan ribuan desa yang tersebar dan beragam.

Apa itu Internet of Energy dan Desa Energi?

Internet of Energy (IoE) adalah pendekatan pengelolaan energi yang mengintegrasikan pembangkit listrik, penyimpanan energi, jaringan distribusi, dan pengguna melalui teknologi digital. Sensor, sistem komunikasi, dan pengendali cerdas memungkinkan energi dipantau dan dikelola secara real-time, adaptif, dan efisien.

Sementara itu, desa energi adalah desa yang memanfaatkan potensi energi lokal – seperti surya, mikrohidro, biomassa, atau sistem hibrida – untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat secara mandiri dan berkelanjutan.

Dalam praktiknya, desa energi tidak cukup hanya membangun pembangkit. Banyak proyek energi terbarukan di desa berhenti beroperasi bukan karena kekurangan sumber daya alam, melainkan karena lemahnya sistem pengelolaan. Internet of Energy berperan sebagai “otak” yang memastikan energi terbarukan dapat dimanfaatkan secara optimal dan berkelanjutan.

Mengapa Internet of Energy penting bagi desa di Indonesia?

Indonesia memiliki tantangan geografis yang unik. Ribuan desa berada jauh dari pusat jaringan listrik nasional. Pendekatan kelistrikan terpusat tidak selalu efektif, mahal, dan sulit dipelihara dalam jangka panjang.

Meski rasio elektrifikasi nasional terus meningkat, kualitas pasokan listrik di banyak desa masih terbatas. Di sejumlah wilayah, listrik hanya menyala beberapa jam, tidak stabil, atau sangat bergantung pada genset diesel yang mahal dan mencemari lingkungan.

Internet of Energy menjawab persoalan ini dengan memungkinkan pengelolaan energi terbarukan secara cerdas. IoE membantu:

  • menjaga kestabilan pasokan listrik,
  • memperpanjang umur baterai dan peralatan,
  • menekan biaya operasional,
  • mengurangi ketergantungan pada diesel.

Pendekatan ini sejalan dengan Rencana Umum Energi Nasional (RUEN), RUPTL hijau PLN, serta komitmen Net Zero Emission 2060 yang menuntut sistem energi bersih, efisien, dan inklusif.

Siapa yang terlibat dalam desa energi berbasis IoE?

Penerapan Internet of Energy di desa melibatkan banyak pihak.

Pertama, masyarakat desa sebagai pengguna sekaligus pengelola energi. Dalam sistem IoE, desa tidak lagi menjadi objek pembangunan, tetapi subjek transisi energi.

Kedua, pemerintah pusat dan daerah, yang berperan dalam kebijakan, regulasi, serta dukungan pendanaan dan infrastruktur.

Ketiga, PLN dan pelaku industri energi, yang mengembangkan sistem kelistrikan yang lebih fleksibel dan terdistribusi.

Keempat, perguruan tinggi dan lembaga riset, yang berkontribusi dalam pengembangan teknologi, pendampingan teknis, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia desa.

Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci agar desa energi tidak hanya dibangun, tetapi juga bertahan dan berkembang.

Di mana Internet of Energy relevan diterapkan?

Internet of Energy sangat relevan untuk desa-desa terpencil dan tersebar, khususnya di wilayah timur dan pedalaman Indonesia.

Desa Energi di Nusa Tenggara Timur

Caption Kompas:
Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) komunal di desa terpencil Nusa Tenggara Timur menjadi tulang punggung pasokan listrik masyarakat. Dengan sistem pengelolaan cerdas, energi surya dapat dimanfaatkan lebih stabil dan berkelanjutan.

NTT memiliki potensi energi surya yang besar. Dengan IoE, produksi dan penyimpanan energi dapat diatur secara optimal, sehingga listrik tetap tersedia pada malam hari dan musim hujan.

Desa Energi di Papua

Desa Energi di Kalimantan

Caption Kompas:
Desa di Kalimantan mulai beralih dari genset diesel ke sistem energi surya dan baterai berbasis microgrid.

Kapan Internet of Energy harus diterapkan?

Jawabannya adalah sekarang. Target Net Zero Emission 2060 tidak akan tercapai jika transisi energi hanya bertumpu pada proyek besar. Ribuan desa harus menjadi bagian dari solusi sejak dini.

Momentum kebijakan melalui RUEN dan RUPTL PLN perlu dimanfaatkan untuk memperkuat desa energi berbasis IoE sebelum ketergantungan pada diesel semakin mahal dan tidak berkelanjutan.

Bagaimana Internet of Energy diterapkan di desa?

Penerapan IoE dilakukan melalui:

  1. Pembangunan microgrid terdistribusi, terutama DC microgrid.
  2. Pemasangan sensor dan sistem monitoring.
  3. Kontrol adaptif untuk mengatur aliran energi otomatis.
  4. Pelatihan masyarakat desa.
  5. Integrasi kebijakan dengan sistem nasional.

Internet of Energy menunjukkan bahwa transisi energi dapat dimulai dari desa. Jika desa adalah fondasi pembangunan nasional, maka desa energi berbasis Internet of Energy adalah fondasi masa depan energi Indonesia – lebih bersih, adil, dan berkelanjutan.

Penulis: Fivit Marwita (Mahasiswa Doktoral Teknik Elektro Telkom University)

Berita Terkini