Artikel

Ketika Papan Digital Bisa “Membaca” Wisatawan: Inovasi Promosi Cerdas untuk Pariwisata Indonesia

waktu baca 4 menit
Foto: Ady Purna Kurniawan (Mahasiswa Doktoral Teknik Elektro Telkom University)

KOMUNICA.ID | Pariwisata Indonesia kini menghadapi dua tantangan besar yaitu bagaimana membuat promosi destinasi yang benar-benar relevan bagi setiap kelompok wisatawan, dan bagaimana memanfaatkan teknologi digital untuk mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan.

Selama ini, sistem promosi konvensional seperti banner, brosur, atau papan digital statis masih memberikan pesan yang sama untuk semua orang. Padahal wisatawan datang dengan latar dan kebutuhan yang berbeda-beda, ada keluarga yang mencari wisata edukatif, pasangan muda yang mengejar suasana romantis, atau rombongan pelajar yang mencari pengalaman hemat tapi bermakna.

Akibatnya banyak pesan promosi tidak tepat sasaran dan terjadi fenomena overtourism di destinasi populer, sementara banyak daerah lain yang potensinya justru belum tersentuh.

Di sisi lain, teknologi Artificial Intelligence (AI) kini berkembang sangat pesat dan mulai membantu manusia dalam berbagai pengambilan Keputusan dari rekomendasi film di platform digital hingga navigasi transportasi. Dalam konteks pariwisata, Machine Learning (ML) sebagai salah satu cabang AI menawarkan peluang besar.

Teknologi ini bisa dimanfaatkan untuk mengenali pola dan preferensi wisatawan, bahkan ketika mereka datang dalam kelompok. Salah satu penerapan yang menarik adalah melalui papan informasi digital adaptif (adaptive digital signage), yaitu layar pintar yang bisa menampilkan rekomendasi destinasi wisata sesuai dengan komposisi kelompok wisatawan yang sedang melihatnya.

Bayangkan sebuah layar digital di bandara, rest area, atau stasiun besar, kemudian sekelompok keluarga berdiri di depannya, layar itu menampilkan video tentang taman bermain, kuliner ramah anak, dan wisata edukatif di sekitar kota.

Namun beberapa menit kemudian, ketika rombongan pelajar melintas, kontennya berubah menampilkan tempat sejarah, wisata gratis, atau lokasi yang cocok untuk berfoto bersama. Semua terjadi otomatis tanpa perlu disentuh.

Teknologi inilah dapat dikembangkan melalui pendekatan Group Composition-Aware Recommender System, yang mengubah papan digital dari sekadar alat promosi menjadi media komunikasi yang adaptif dan kontekstual.

Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa digital signage yang cerdas dapat memberikan informasi yang lebih relevan dan terkini bagi wisatawan (Cahyadi dkk, 2014).

Sementara itu, studi sistematis tentang penggunaan machine learning dalam pariwisata (Núñez dkk, 2024) membuktikan bahwa algoritma pembelajaran mesin cukup efektif dalam membantu proses perencanaan destinasi dan rekomendasi personalisasi wisata.

Dengan memadukan kedua hal ini, pengalaman wisata bisa menjadi lebih personal tanpa kehilangan nilai kolektifnya. Konten yang ditampilkan pun lebih menarik karena memanfaatkan elemen multimodal seperti video, animasi, dan teks interaktif dibandingkan iklan statis yang membosankan dan mudah diabaikan.

Lebih jauh, inovasi ini selaras dengan semangat Sustainable Develepment Goals (SDGs) yang dicanangkan PBB.

Pertama, mendukung SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) karena promosi wisata yang tepat sasaran akan meningkatkan kunjungan dan peluang ekonomi bagi masyarakat lokal.

Kedua, berkontribusi pada SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) dengan memperkenalkan teknologi AI dalam infrastruktur pariwisata digital.

Ketiga, mendorong SDG 11 (Kota dan Komunitas Berkelanjutan) dengan membangun ekosistem kota wisata yang inklusif dan ramah wisatawan. Dan terakhir, memperkuat SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) dengan memberikan rekomendasi destinasi wisata sesuai dengan kebutuhan.

Penerapan teknologi ini tentu saja tidak lepas dari berbagai tantangan, Dimana memerlukan infrastruktur yang andal, regulasi yang menjaga privasi data, dan kesiapan sumber daya manusia. Penelitian Susanto (2025) menegaskan bahwa meskipun potensi AI di sektor pariwisata Indonesia sangat besar, kebijakan dan koordinasi antar pemangku kepentingan masih perlu diperkuat.

Selain itu, keberhasilan transformasi digital di sektor wisata tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada perubahan pola pikir pengelola destinasi untuk lebih terbuka terhadap inovasi (López dkk, 2025).

Ke depan, kolaborasi lintas sektor menjadi kunci. Pemerintah daerah, pelaku industri, akademisi, pengembang teknologi, dan komunitas lokal harus bergerak bersama untuk mengembangkan pilot project papan digital adaptif.

Standar konten multimedia perlu disusun agar pesan yang disampaikan tetap menarik namun bertanggung jawab. Indikator keberhasilan juga penting, bukan hanya dalam bentuk jumlah pengunjung, tetapi juga sejauh mana teknologi ini membantu pemerataan destinasi dan peningkatan kualitas pengalaman wisata.

Akhirnya, kita perlu menyadari bahwa masa depan promosi wisata bukan lagi tentang siapa yang paling banyak beriklan, tetapi siapa yang paling memahami pengunjungnya. Dengan menggabungkan machine learning dan multimedia adaptif, papan digital dapat menjadi jembatan cerdas antara destinasi dan wisatawan.

Ia tidak hanya menampilkan informasi, tetapi juga memahami siapa yang melihat dan apa yang dibutuhkan. Inilah arah baru pariwisata Indonesia yang cerdas secara teknologi, manusiawi dalam pendekatan, dan berkelanjutan bagi lingkungan dan masyarakatnya.

Penulis: Ady Purna Kurniawan (Mahasiswa Doktoral Teknik Elektro Telkom University)

Berita Terkini