Menggali Potensi Hasil Kerajinan dari Sampah Melalui Strategi Marketing untuk Meningkatkan Ekonomi Masyarakat Desa Galuga
KOMUNICA.ID | Tantangan ekologis yang berlangsung bertahun-tahun akibat keberadaan Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPSA) terus membayangi kehidupan warga.
Namun di balik kondisi tersebut, muncul potensi yang mulai diberdayakan melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) berbasis circular economy, yang kini diterapkan di Desa Galuga, Kabupaten Bogor. Selasa (23/12/2025).
Program ini bertujuan mengubah stigma Desa Galuga dari wilayah terdampak lingkungan menjadi pusat inovasi ekonomi kreatif. Melalui serangkaian pelatihan, masyarakat kini mulai mandiri secara ekonomi dengan memanfaatkan limbah sebagai bahan baku utama.


Mengasah Keterampilan dan Literasi Digital
Tim pengabdian mengidentifikasi tiga masalah utama di lapangan: minimnya keterampilan pengolahan limbah, terbatasnya pengetahuan pasar, dan belum adanya kelembagaan usaha yang formal. Menjawab tantangan tersebut, dilakukan pendekatan partisipatif melalui Focus Group Discussion (FGD) dan workshop teknis.
Hasilnya, warga tidak hanya diajarkan teknis produksi, tetapi juga diberikan literasi digital. Warga kini mulai merambah platform visual seperti Instagram dan TikTok untuk membangun branding produk daur ulang mereka. Penggunaan media sosial ini diharapkan mampu memutus rantai keterbatasan pasar dan menjangkau konsumen yang lebih luas secara efektif.
Produk Kreatif Bernilai Jual
Dalam sesi workshop, limbah lokal seperti plastik disulap menjadi produk yang estetik dan layak jual. Beberapa produk unggulan yang dihasilkan antara lain:
- Hiasan Lampu: Mengubah plastik bekas menjadi elemen dekorasi rumah yang modern.
- Gantungan Kunci: Produk kecil dengan kreativitas tinggi yang memiliki daya tarik pasar luas.








Mendukung Agenda SDGs
Kegiatan tersebut tidak hanya memberikan kontribusi terhadap peningkatan pendapatan rumah tangga, tetapi juga selaras dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs), terutama pada aspek konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab serta upaya penanganan perubahan lingkungan.
“Masyarakat kini memiliki kemampuan untuk mengidentifikasi potensi limbah dan mengubahnya menjadi barang ekonomis,” papar laporan program tersebut.
Melalui inisiatif ini, Desa Galuga diharapkan dapat bertransformasi dari wilayah yang terdampak persoalan sampah menjadi pusat inovasi ekonomi kreatif yang berkelanjutan, sejalan dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs).


































































